Cinta adalah kata yang sering kita ucapkan tetapi kadang sulit kita pahami dan sulit untuk dijelaskan. Ketika kita menyebut cinta secara otomatis kita dapat menangkap maknanya dan kita tidak mempermasalahkan kata cinta. Namun kita masih tidak ngeh untuk apa cinta? dan dari mana datangnya cinta? Apakah cinta membawa derita atau bahagia?
Menurut ahli Biologi cinta itu respon kimiawi dalam otak yang melibatkan pelepasan hormon. Dari perspektif Psikologi seperti pendapat Robert Stenberg ada tiga komponen cinta yaitu intimacy, Passion (gairah), commitment (Teori Trianguler Cinta). Ketiga komponen tersebut dapat berinteraksi satu sama lain, jika keintiman berinetraksi dengan gairah maka menghasilkan Romantika, Jika keintiman berinteraksi dengan komitmen maka melahirkan Persahabatan, jika gairah berinteraksi dengan komitmen maka melahirkan Fatuous. Dan jika ketiga komponen tersebut saling berinteraksi melahirkan cinta Sejati.
Cinta Fatuous terjadi manakala seseorang tertarik karena faktor fisik, status sosial baik karena kekayaan atau karena jabatan. Ketertarikannya tidak memperhatikan unsur komunikasi, kecocokan, ,kepercayaan dan lain-lain.
Tak ketinggalan dengan pendapat Ilmuan Biologi dan Psikologi, Filosof seperti Plato berpendapat bahwa cinta itu adalah akibat dari dua sebab yaitu keindahan dan kebaikan. Adanya keindahan dan kebaikan dapat menyebabkan lahirnya cinta. Keindahan sering didefinisikan sebagai harmonisasi dari sesuatu yang universal (umum) dan partial (Juz’i/khusus). Sedangkan kebaikan dapat didefinisikan sesuai dengan aliran etika, tapi Plato menyebut bahwa kebaikan sebagai konsep yang terkait dengan kebenaran dan keadilan dan melekat dengan kesempurnaan.
Berbeda dengan Ilmuan dan Filosof, cinta itu menurut Agama berasal dari Tuhan dan merupakan bagian sifat Ilahi, dalam Islam terletak dari kalimat ”Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Ada hadits yang mengatakan amal tanpa mengucapkan Bismillahirohmannirohiim maka terputus berkahnya seperti dalam hadits Abu Hurairah (HR. Al Khatib dalam Jami’ dari jalur Ar-Rahawai dalam Al- Arbai’in, As-Subki dalam thabaqtnya).
Dalam pandangan Islam atau agama Ilahi, cinta itu memiliki sebab dan akibatnya tidak hanya bersifat materi. Tuhan sebagai sumber segala sumber dan sebagai kebenaran mutlak memiliki peran dalam lahirnya cinta. Cinta tidak hanya datang dari materi misalnya karena respon kimiawi dalam otak. Respon kimiawi berasal dari sumber makanan dan lain-lain. Faktor lain dapat saja berupa anugrah ilahi karena kita melakukan berbagai kebaikan secara ikhlas, melakukan do’a atau munajat, mungkin saja kebaikan itu berasal dari orang yang kita cintai dan lain-lain.
Menurut Syekh Ibn Al Ra’is, cinta itu bertingkat yaitu:
1. Cinta yang bersumber dari hawa nafsu, cinta jenis ini bersifat naluri. Cinta ini terjadi karena ada dorongan dari dalam mirip kecenderungan seekor hewan kepada lawan jenisnya. Cinta jenis ini berupa kecenderungan seksualitas karena kecantikan atau ketampanan dan lain-lain.
2. Jenis cinta yang kedua juga masih bersifat naluri dan hewani, namun cinta jenis ini lebih baik dari jenis cinta yang pertama, misalnya cinta Orang tua kepada anaknya. Cinta jenis ini melindungi dan menjaga yang dicintanya bahkan kadang orang tua mengorbankan diri untuk anaknya.
3. Cinta yang ketiga lebih bersifat spiritual. Cinta ini dibangun atas kesadaran bahwa kita memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita. Kecintaan kita yang bersifat ideologis yang kadang-kadang kita bangun cinta ini melalui jargon-jargon cinta, misalnya yang ada dalam sumpah pemuda satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tanah air Indonesia.
4. Cinta keempat adalah cinta yang sangat berharga yaitu cinta karena keimanan. Iman atau kepercayaan kepada Allah SWT dapat melahirkan cinta tulus karena Allah dan bukan karena materi apapun. Jenis cinta ini dapat kita temukan pada kaum Anshar ketika kedatangan saudaranya kaum Muhajirin.
5. Cinta tertinggi adalah cintanya seorang wali kepada wali Allah lainnya. Cinta jenis ini mensyaratkan pecinta dan yang dicinta memiliki kedekatan kepada Allah dan satu sama lain mengenal posisinya masing-masing, misalnya cintanya Ibrahim pada Ismail, cintanya Ya’cub pada Yusuf, atau mungkin cintanya Musa pada Harun. Jika kita membaca kisah Ya’cub dan Yusuf, kita dapat temukan bahwa Ya’cub mencintai Yusuf melebihi cintanya kepada anak-anaknya yang lain, karena Ya’cub tahu posisi dan kedudukan Yusuf.
Cinta ke empat dan kelima adalah cinta yang menyelamatkan. Sedangkan cinta 1 hingga nomer 3 perlu pengelolaan, sebab cinta jenis ini dapat menjadi racun dan melenakan kita sebagai manusia. Terjadinya peperangan, berebut harta kekayaan, berebut jabatan adalah efek cinta 1-3 yang tidak dikelola dengan baik. Cinta pada tingkatan ini bersifat egoisme individual dan egoisme sebagai sebuah golongan atau kelompok. Korupsi, kolusi, dan nepotisme memiliki relasi dengan cinta 1-3.
Tugas kita belajar mencinta hingga memasuki cinta level 4. Untuk memasuki cinta ke empat perlu upaya yang sungguh-sungguh dan serius melalui latihan sulit dan panjang. Untuk meraih cinta ini dapat melalui mengenal Allah melalui tanda-tanda (Al Fusilat: 53), hingga kita cinta kepada kebenaran. Ketika cinta kebenaran maka seluruh daya dan upaya sulit pasti akan dilewati. Tapi cinta kebenaran tidak semudah membalik telapak tangan.
Cinta dunia sesungguhnya akar masalah dari semua permasalahan yang dihadapi manusia. Olehkarena itu mengapa Tuhan menyuruh kita supaya kita, memiliki cinta atas nama Tuhan dan bukan selainnya. Ilmu yang terkait dalam membahas cinta Tuhan dalam Ilmu agama adalah Ilmu Tasawuf. Ilmu ini mengajarkan kita pada jalan spiritual yang berbasis cinta.
Sebab akibat cinta yang berasal dari Ilmuan baik Biolog, Psikolog, juga Filosof tidak sepenuhnya salah dan tak berakibat apapun pada pecinta tetapi faktor terpenting dan utama adalah Tuhan yang mengajarkan kita untuk mencintai-Nya. Tuhan sebagai tujuan cinta inilah yang menyelamatkan.
Oleh karena itu mengapa Islam mengajarkan kita untuk menjaga makanan, memilih dan memilah makanan yang halal dan baik. Islam mengajarkan belajar tulus, sabar, dan pantang mundur. Islam juga mengajarkan kita agar terus berbuat baik. Islam juga mengajarkan kita agar mengenal Tuhan melalui tanda-tanda dan lain sebagainya. Setelah kita berupaya maksimal untuk mencintai Tuhan selebihnya kita pasrahkan kepada-Nya.
Faktanya apa yang kita pikirkan dan lakukan pagi , siang, malam adalah untuk dunia. Pekerjaan yang kita usahakan untuk mendapatkan uang, jabatan, dan kehormatan. Padahal sejatinya bagi orang yang memiliki pandangan dunia Ilahi yang kita bawa hanya dua yaitu pahala atau dosa. Kebaikan yang kita pikirkan dan lakukan untuk uang, jabatan, dan kehormatan menjauhkan kita dari kebahagiaan. Semoga Allah membimbing kita!
(Nasrum Minallah Wa fathun Qoriib, Dr. Srie Muldrianto, MPd. Ketua PC Muhammadiyah. Purwakarta)



