bhayangkaranews24.id (Purwakarta) Komunikasi empati sejatinya menjadi fokus kaum elit yang tidak pernah mengalami hidup dalam penderitaan. Demontrasi yang berdampak pada terjadinya kerusuhan sosial kemungkinan berasal dari perilaku komunikasi yang dilakukan kaum elit di negeri ini, sebut saja ungkapan yang dinyatakan para petinggi negeri ini ketika banyak orang yang menyatakan kabur aja dulu, tanah nganggur yang akan diambil negara, penagihan pajak akan melibatkan polisi dan KPK, dan lain-lain. Di samping itu gaya hidup mewah para pejabat dan anggota dewan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan mayoritas warga negara penduduk Indonesia. Flexing atau pamer kekayaan pejabat dan keluarga pejabat di media sosial. Sementara kondisi ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia sedang mengalami kesulitan di lain pihak pemerintah mulai menaikkan pajak dan lain-lain.
Marshall Rosenberg yang mengembangkan teori NVC (Nonviolent Communication) menyarankan agar kita dapat mengembangkan cara berkomunikasi efektif dan empati untuk memecahkan konflik dan membangun hubungan positif. Di antara komunikasi empati Adalah tidak mudah menghukumi dan menilai sesuatu berdasarkan perspektif kita atau golongan kita. Kita harus membangun hubungan yang setara, seimbang dengan orang lain yang mungkin berbeda dengan kita dan lingkungan kehidupan kita. Memahami perspektif orang lain adalah salah satu kata kunci untuk membangun hubungan saling memahami.
Sejalan dengan itu, Daniel Goleman terkait dengan emotional intellegence mengatakan bahwa empati adalah kunci dalam kepemimpinan efektif di mana pemimpin yang rasional harus mampu mengatur emosi diri dan memahami perasaan orang lain untuk menyelesaikan konflik.
Baik Rosenberg maupun Goleman sama-sama menekankan pentingnya memahami orang lain agar terjalin hubungan yang harmoni. Pesan ini dapat dimaknai bahwa para politisi dan para pejabat di negeri ini harus belajar memahami keadaan kondisi mayoritas warga negara yang merasakan ketidak adilan dan kemiskinan.
Kehadiran dan suasana batin masyarakat di pinggiran kota dan di desa-desa harus dapat hadir dan singgah di hati para pejabat dan para politisi jika tidak, ini akan menjadi bom waktu yang sekali-kali dapat meledak lagi. Ungkapan para pejabat yang asbun dapat menjadi pemicu lahirnya kebencian, meningkatnya rasa kecewa masyarakat Indonesia.
Sebagai anggota masyarakat yang hidup di perkampungan Indonesia, penulis merasakan adanya niat baik dari Bpk Prabowo Subianto, seperti mengangkat menteri-mentri yang pinter dari latarbelakang pendidikan tinggi berkualitas seperti dari ITB dan dari profesional yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di luar negri, membuat kebijakan MBG (Makan Bergizi Gratis) mungkin bertujuan agar meningkatnya kualitas IQ peserta didik Indonesia, membuat sekolah taruna nusantara, mendirikan sekolah rakyat, dan bahkan bercita-cita ingin mendirikan perguruan tinggi internasional dan lain-lain. Tapi apakah kebijakannya ini realistis dengan kehidupan masyarakat Indonesia kekinian? Misalnya MBG, sampai hari ini kebijakan ini lebih banyak menguntungkan segelintir orang dan merugikan mayoritas masyarakat. MBG telah mengahabiskan dana yang sangat besar hingga merugikan kaum miskin yang dari dua sisi pertama rata-rata orang miskin di desa yang belum mendapat bagian, kedua MBG telah begitu menyerap dana hingga kemiskinan dan kesempatan kerja belum terselesaikan. Kalaupun nanti semua kebagian tetap saja itu tidak berkeadilan karena, semua baik kaya dan miskin mendapat hak yang sama. Bukankah justru yang lebih membutuhkan makan dan dapat bantuan dari pemerintah itu adalah orang-orang miskin?
Di lain pihak KDM begitu viral dan mendapat sambutan hangat dari mayoritas masyarakat Indonesia. Mengapa? Kemampuan komunikasi empati KDM telah menyihir mayoritas masyarakat Indonesia hingga KDM menjadi idola di mana-mana. (*Dr. Srie Muldrianto, MPd Forum Komunikasi Dosen RI Bidang Organisasi*)



