TANGERANG — Bhayangkaranews24.id, Ketua MWCNU Kecamatan Kemiri melontarkan pernyataan keras kepada pimpinan pusat PBNU dengan mendesak Ketua Umumnya, Yahya Cholil Staquf, untuk mengundurkan diri. Desakan itu muncul menyusul dukungan PBNU terhadap keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional Board Of Peace, yang dinilai sebagian kalangan internal tidak sejalan dengan aspirasi umat.

Dalam keterangannya, ia menyebut sikap organisasi tersebut memicu kegelisahan di tingkat akar rumput, terutama setelah peristiwa wafatnya pemimpin Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer yang dikaitkan dengan Israel di tengah ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, keputusan strategis organisasi sebesar Nahdlatul Ulama semestinya mempertimbangkan sensitivitas solidaritas umat Islam global, termasuk dinamika konflik di Palestina serta relasi politik internasional dengan Amerika Serikat. Ia menilai langkah PBNU justru menimbulkan persepsi negatif di kalangan sebagian masyarakat Muslim.

“Jika kepemimpinan tidak lagi mencerminkan aspirasi umat, maka wajar muncul tuntutan evaluasi. Kami meminta pertanggungjawaban moral atas sikap organisasi dalam isu global yang sensitif,” ujarnya.

Ia menambahkan, desakan tersebut tidak hanya mewakili pandangan pribadi, melainkan disebutnya juga mencerminkan suara umat muslim Nahdliyyin lainnya yang merasa perlu adanya koreksi arah kebijakan. Pernyataan itu sekaligus menandai meningkatnya tekanan internal terhadap pimpinan pusat organisasi.

Hingga laporan ini diturunkan, pihak PBNU harus memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan tersebut. “Saya menilai dinamika kritik terbuka semacam ini merupakan fenomena yang kerap muncul dalam struktur organisasi besar, terutama ketika keputusan strategis bersinggungan dengan isu internasional dan persepsi solidaritas lintas umat.

Situasi ini diperkirakan masih akan berkembang seiring respons dari berbagai pihak di internal organisasi maupun dari kalangan publik yang mengikuti polemik tersebut.

Red.