Oleh: Dr. Ahmad Fahrur Rozi

Ketua MUI bidang pesantren 

 

Jakarta — Bhayangkaranews24.id, Salah satu alasan yang sering membuat orang tua ragu memasukkan anaknya ke pesantren adalah anggapan bahwa biaya mondok sangat mahal. Padahal, jika dihitung secara jujur dan menyeluruh, justru mondok di pesantren sering kali lebih hemat dibandingkan sekolah biasa.

 

Memang harus diakui, dalam beberapa tahun terakhir muncul sejumlah pesantren modern yang menawarkan fasilitas premium dengan biaya pendidikan yang cukup tinggi. Ada yang menyediakan kamar ber-AC, gedung mewah, fasilitas olahraga lengkap, hingga layanan yang menyerupai hotel atau asrama VIP. Kehadiran pesantren seperti ini sah-sah saja sebagai pilihan bagi masyarakat yang menginginkannya.

 

Namun, jangan sampai keberadaan sebagian kecil pesantren berbiaya tinggi membuat masyarakat beranggapan bahwa semua pesantren mahal.

 

Faktanya, mayoritas pesantren tradisional di Indonesia, khususnya pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama, masih mempertahankan semangat kesederhanaan dan keterjangkauan. Bahkan banyak yang memungut biaya jauh lebih rendah dibandingkan biaya sekolah umum ditambah kebutuhan les, transportasi, dan uang jajan harian.

 

Mengapa demikian?

 

Karena pesantren menyatukan pendidikan dan tempat tinggal dalam satu lokasi. Santri tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi setiap hari, tidak memerlukan biaya tambahan untuk berbagai aktivitas di luar sekolah, dan dapat menjalani proses pendidikan secara lebih terarah.

 

Kehidupan pesantren juga mengajarkan kesederhanaan. Santri dibiasakan hidup secukupnya, mandiri, disiplin, dan tidak mudah terjebak dalam budaya konsumtif yang sering kali justru menjadi sumber pemborosan keluarga.

 

Lebih dari itu, banyak pesantren NU memiliki tradisi panjang membantu masyarakat kecil. Para kiai sejak dahulu memahami bahwa pendidikan adalah jalan utama mengangkat derajat umat. Karena itu, berbagai bentuk keringanan biaya, subsidi, hingga beasiswa terus diberikan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap dapat memperoleh pendidikan yang layak.

 

Di berbagai daerah, tidak sedikit pesantren yang masih menerima santri yatim, dhuafa, dan anak-anak dari keluarga petani atau buruh dengan biaya yang sangat ringan. Sebagian bahkan memperoleh bantuan penuh dari pesantren dan para dermawan.

 

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang. Setiap tahun pesantren ini menyediakan program beasiswa bagi kader-kader NU, santri tahfidz Al-Qur’an, serta santri dari keluarga kurang mampu. Melalui program tersebut, banyak santri dapat mondok dan bersekolah secara gratis atau dengan biaya yang sangat terjangkau.

 

Karena itu, masyarakat perlu melihat pesantren secara lebih objektif. Yang mahal sebenarnya bukan biaya mondok, melainkan biaya ketika anak kehilangan arah pendidikan, kehilangan lingkungan yang baik, atau kehilangan kesempatan mendapatkan pembinaan karakter sejak usia muda.

 

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren adalah tempat membentuk akhlak, kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, dan ketahanan mental yang akan menjadi bekal sepanjang hidup.

 

Maka sudah saatnya kita mengoreksi mitos lama bahwa mondok itu mahal. Faktanya, bagi sebagian besar keluarga Indonesia, terutama di lingkungan pesantren tradisional NU, mondok justru merupakan salah satu pilihan pendidikan yang paling hemat, paling efisien, dan paling bernilai untuk masa depan anak.

 

Jangan takut datang ke pesantren hanya karena mendengar kabar biaya yang mahal. Tanyakan langsung kepada pengelolanya. Sering kali, di balik kesederhanaan pesantren, terdapat pintu-pintu kebaikan yang terbuka lebar bagi anak-anak yang sungguh-sungguh ingin belajar.

 

(AM-212)