TANGERANG — bhayangkaranews24.id, kp sukadana desa pangarengan kec Rajeg,, Sikap diam dan enggan memberikan penjelasan ditunjukkan oleh Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten, Isvan Taufik. Saat dikonfirmasi mengenai dugaan penyimpangan dan indikasi kecurangan pada Proyek Lanjutan Rehabilitasi Irigasi Cisadane Kabupaten Tangerang nilai kontrak 82,634,855,502,90 Isvan memilih membisu.

Pesan konfirmasi serta naskah berita investigasi yang dikirimkan redaksi melalui WhatsApp guna meminta bantahan, koreksi, maupun hak jawab atas temuan di lapangan sama sekali tidak direspons oleh Kabid SDA tersebut.

 

Aksi “layap balik” dan bungkamnya pejabat publik ini kian menguatkan kecurigaan publik terkait lemahnya pengawasan serta dugaan permainan dalam proyek bernilai miliaran rupiah dari APBD Banten tersebut. Sederet indikasi cacat konstruksi dan perencanaan “salin tempel”

 

 

Berdasarkan penelusuran dokumen dan fakta di lapangan, proyek fisiknya Namun, pekerjaan penahan dinding irigasi ini diduga kuat sudah cacat sejak dalam tahap perencanaan.

 

Tanpa pengujian mekanika tanah (Soil Investigation). Dugaan kuat menyebutkan konsultan perencana tidak pernah melakukan pengujian daya dukung tanah di lokasi. Dokumen teknis yang disodorkan disinyalir hasil copy-paste (salin-tempel) dari dokumen tahun anggaran sebelumnya. Padahal, tanpa data mekanika tanah, struktur turap beton/pasangan batu rawan mengalami pergeseran (sliding), retak, dan ambrol akibat tekanan air puncak.

 

Yang Lebih parah lagi,saat Awak Media infestigasi ke lapangan,Mandor yg bekerja,mengatakan pk itu Batu jangan di Vidio in karna karna ga layak pakai,dan ga bagus,kata Mandor Tukang..26 juni 2026,

 

 

Ironis na,tgl 28 juni 2026 saat di infestigasi malah lagi di pasang ,sampai habis malah,wow keren ya pemborong kaya kaya ucing ucingan d lapangan.

 

 

Pencuatan “misteri” pengurangan volume tinggi turap. Berdasarkan rancangan awal, ketinggian dinding turap dipatok 3,5 meter. Namun, hasil pengukuran fisik di lokasi menunjukkan realisasi turap yang berdiri saat ini hanya berkisar 2,8 hingga 3 meter. Terpangkasnya dimensi setinggi 50–70 cm ini berbanding lurus dengan penyusutan volume semen, pasir, batu, dan besi tulangan indikasi klasik praktik down-spec demi mendongkrak marjin keuntungan sepihak.

 

 

Sementara itu, air Irigasi Cisadane terus mengalir mengikis turap-turap baru yang berdiri tanpa kepastian struktur—menanti apakah bangunan ini sanggup bertahan, atau justru roboh tersapu ketidakjujuran dan sikap apatis pejabat publik.

 

 

(Aliyudin-273)