CILEGON, BANTEN — bhayangkaranews24.id, Nasihat ulama kembali mengingatkan umat bahwa kecerdasan, ilmu, harta hingga kekuasaan bukanlah sekadar fasilitas untuk memenuhi keinginan pribadi. Semua itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Alwiyan Qasid Syam’un, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten, melalui sebuah mutiara nasihat yang mengajak umat untuk memahami makna kecerdasan dan ketakwaan secara lebih mendalam.
Dalam pesannya, Kiai Alwiyan menekankan bahwa orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang menyadari dengan penuh keimanan dan ketakwaan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan titipan Allah.
“Orang yang berakal adalah mereka yang menyadari dengan penuh keimanan dan ketakwaan bahwa sesungguhnya Allah menitipkan dan mengamanahkan ilmu, harta atau kekuasaan kepada seseorang bukanlah untuk dijadikan sebagai sarana memperturutkan hawa nafsunya, tetapi agar seseorang tersebut mudah menjalankan misi Allah dan Rasul-Nya di muka bumi ini.”
Bukan Sekadar Memiliki, Tetapi Mempertanggungjawabkan
Pesan tersebut mengandung pengingat penting bahwa kepemilikan manusia atas ilmu, harta maupun kekuasaan pada dasarnya bersifat amanah.
Ilmu, misalnya, bukan hanya untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih pintar daripada orang lain. Demikian pula harta bukan semata-mata untuk memenuhi segala keinginan, sementara kekuasaan bukan ruang untuk memperturutkan kepentingan pribadi.
Semakin besar amanah yang diberikan Allah, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat di dalamnya.
Karena itu, ukuran kecerdasan seorang manusia tidak hanya terletak pada seberapa banyak ilmu yang dikuasainya atau seberapa tinggi kedudukannya, tetapi juga bagaimana ia menggunakan apa yang dimilikinya untuk kemaslahatan dan kebaikan.
Ahmad Mujib: Nasihat yang Mengajarkan Cara Memandang Amanah
Nasihat tersebut mendapat apresiasi dari Ustadz Ahmad Mujib, Ketua MWCNU Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang.
Menurut Ahmad Mujib, pesan Kiai Alwiyan memiliki makna yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, khususnya dalam mengingatkan manusia agar tidak terjebak menjadikan ilmu, harta dan jabatan sebagai tujuan akhir kehidupan.
“Saya sangat mengapresiasi nasihat Kiai Alwiyan. Ini bukan sekadar nasihat tentang ilmu, harta atau kekuasaan, tetapi mengajarkan bagaimana kita memandang semua itu sebagai amanah dari Allah. Kalau seseorang memahami bahwa apa yang dimilikinya hanyalah titipan, insyaallah hatinya akan lebih berhati-hati dalam menggunakannya,” ungkap Ahmad Mujib.
Ia menilai, perspektif tersebut juga dapat menjadi jalan untuk menghadirkan ketenangan dalam kehidupan. Sebab manusia tidak lagi merasa bahwa seluruh keberhasilan yang diraihnya adalah semata-mata hasil kekuatannya sendiri.
Sebaliknya, ada kesadaran bahwa di balik setiap nikmat terdapat amanah yang harus dijaga.
Ketika Amanah Menjadi Jalan Pengabdian
Kiai Alwiyan melalui nasihatnya juga mengajak manusia untuk mengarahkan berbagai potensi yang dimiliki kepada sesuatu yang bernilai ibadah dan memberikan manfaat.
Ilmu digunakan untuk menerangi.
Harta digunakan untuk membantu.
Kekuasaan digunakan untuk mengayomi.
Ketiganya dapat menjadi jalan kebaikan apabila ditempatkan sebagai amanah. Namun apabila hanya digunakan untuk memperturutkan hawa nafsu, sesuatu yang semestinya menjadi sarana kebaikan justru berpotensi menjadi ujian yang berat.
Pada akhirnya, pesan tersebut kembali membawa manusia kepada satu kesadaran mendasar: apa pun yang dimiliki di dunia ini bukan sepenuhnya milik kita.
Manusia hanya menerima titipan untuk menjalankan perannya sebagai hamba Allah di muka bumi.
Dan orang yang benar-benar berakal bukan hanya mereka yang mampu mendapatkan sesuatu, tetapi mereka yang memahami untuk apa Allah menitipkan sesuatu itu kepadanya.
(AM-212)



