Banten – bhayangkaranews24.id, melanjutkan artikel pembahasan tentang “Mengenal Ilmu Kewalian dan 2 Ilmu Lainnya”, oleh Al faqir Abd. Muiz Albusthomi.

بسم الله الرحمن الرحيم

Bagian kedua:

Ilmu kewalian ini sudah menjadi fakta yang sangat Tabu jangankan untuk diamalkan, untuk dibicarakannya saja sudah tidak punya tempat bagi sebagian ummat islam masakini. Seiring waktu dengan perkembangan zaman dan teknology yg begitu pesat sedikit banyak mempengaruhi ketetapannya dan lebih cenderung kepada perubahannya dari segi perbuatan orang-orangnya dan dari segi cara-cara seseorang itu dalam menyikapi berbagai macam kasus demi kasusnya, berbagai macam masalah amaliyah duniawi dan ukhrowi, hingga sampai ke pokok pembahasan ilmu kewalian yg sudah kita bahas sebagiannya dilembaran pertama.

Kenapa saya katakan Tabu dan tidak punya tempat untuk dibicarakan.

maaf..Contoh kemaren-kemaren Pak Kapten bilang wahdatul wujud atau Syari’at Thoriqot Haqiqot atau soal berbagai macam namanya Tajalli, apalagi nanti bilang manunggaling kaulo gusti atau jami’ii’ul maujudat ‘adamu wujudu mahdlin innamaa wujuduhu wujudul hak. udah itu mah sebarisan model saya mah yg sama sebangsa ‘awamnya angkat tangan tinggi-tinggi, so’alnya apa ya karena ya ora mudheng telah menjadi lumrah dan biasa jangankan mulut yang potongan saya awam, tarohlah mulut orang yg katanya alim ahli Fikih mereka rata rata bilang “Ente ngajinya kedaleman itu…Haaah “.

Ok saya setuju itu kedaleman, tapi yg ceteknya apa coba terangkanlah, ini ilmu kewalian yg sudah banyak tercantum dalam kitab-kitab seperti di Al-Hikam Al-Ihya dan lain sebagainya.

lalu ada pada sebagian orang bisa mukasyafah bisa melihat ghoib entah itu disebut qorin atau arwah leluhur atau jin setan merkayangan, bahkan ada satu kejadian orang pengen ziarah kubur saja sampai tidak jadi berangkat karena secara dipandang dengan mata batin sebagian dari mereka ruh shohibul maqbaroh tidak ada di maqbarohnya sedang keluar, dan bisa membaca pikiran dan hati seseorang bisa komunikasi dengan ghoib, tanpa peduli bagaimana dia syari’atnya atau latar belakang keilmuannya. apakah jika yg seperti ini tidak kedaleman tidak menimbulkan kesemrawutan Syari’at dan fitnah??

Dan ternyata setelah di selidiki dia sama saja seperti saya ilmunya alias awam tidak mengerti apalagi tajalli thoriqoh, 20 sifat yg wajib bagi Allah dan 20 sifat mustahilnya dan 1 wenangnya pembagiannya ada nafsiyah 1 salbiyah 5 ma’ani 7 ma’nawiyah 7 dan ilmu yg fardlu Ain 3 ‘Aqoid Fiqh Tasawwuf, yg wajib saja ‘awam dan bahkan ada sebagian potongan model saya terkejut dan menganggap seperti ilmu baru,artinya baru diketahui,,ternyata oh ternyata..

Kita Meyakini Ahlussunnah Wal Jama’ah Annahdliyah ini adalah kelompok tengah yang menjadi sebaik-baiknya kelompok artinya mungkin sedengan atau sedang-sedang saja. Sebagaimana yang Kanjeng Nabi SAW sabdakan:

خير الامور اؤسطها…اوكما قال

“Sebaik-baik perkara ialah pertengahannya…”

Sedang sedang saja, karena jika berlebihan dan mengandalkan pola pikir saja dengan serba ada hitung-hitungan matamatikanya dalam setiap perkara kemudian menghitung untung ruginya maka bukankah itu kelakuan Jabbariyah atau wahabi namanya, jika berlebihan tahayyulnya dan halusinasinya tanpa merasa penting untung menggunakan ikhtiar nalar pikiran akal yg sudah Allah karuniakan apakah juga tidak termasuk Syi’ah atau Qodariyah Murji’ah dll sebagainya?

Kembali tentang pembahasan Ilmu Kewalian itu satu kesatuan dengan dua Ilmu lainnya.

Maksud saya disini adalah ingin memancing ketertarikan dari para pembaca yg budiman dan yg baik-baik hati semuanya, agar tergugah hatinya untuk membaca, ya memang terlalu panjang kali lebar, tapi ya memang perjalanan kita karena masih panjang saudara. itu menurut aw kama qola mang Andi yg pernah melintas dan terbaca status wa nya kurang lebih seperti itu sodara. Ya hampuralah ari riweh macana mah sudah barang pasti.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Rasulullah saw bersabda : “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم , , بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال

Artinya: “Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga para ‘Ulama ada yang berkata,“Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.”

Yang dimaksud ilmu hal menurut kiyai saya ialah ilmu Syara’ tentang Iman Islam Ihsan, akidah Fiqh dan Tasawwuf tentang Syari’at Thoriqot dan Haqiqot tentang keimanan misalnya percaya kepada Allah tentang peribadatan misalnya sholat tentang kebersihan hati misalnya ikhlas.

وتعلمن علما يصحح طا عة # وعقيدة ومزكى القلب اصقلا

هذى الثلاثة فرض عين فاعرفن # واعمل بها تحصل نجاة واعتلا

Artinya: “Dan belajarlah ilmu yang memperbaikai ketaatan dan aqidah dan yang membersihkan hati dengan berkilau”.

“Tiga rukun ini fardu ain maka ketahuilah dan amalkanlah, maka kamu akan menghasilkan keselamatan dan keluhuran”.

Dengan Sabda Rasulullah SAW dan uraian ‘Ulama atau kiyai seperti diatas ini maka seharusnya sudah bisa difahami, bahwa Ilmu kewalian yg saya jadikan judul tulisan ini adalah Ilmu Tasawwuf namanya, sedangkan dua Ilmu lainnya adalah Ilmu Akidah dan Ilmu Fiqh namanya,

Ketiga Ilmu ini posisinya sama, sama wajibnya untuk dipelajari secara fardlu Ain sederajat dengan sholat, sama pentingnya untuk diamalkan di keseharian kita dalam masalah yg bernilai Ibadah. ini bukan hal yg tabu atau kedalaman dalam memberi pengetahuan bahkan ini dianjurkan untuk dibahas dan di amalkan..

so’al wahdatul wujud seperlunya saja tapi soal pengertian wujud qidam baqo saterusnya samaknanya itu harus digalakkan kepada masyarakat awam mislii..

So’al masalah fiqh nasab seperlunya saja biar ahlinya saja tapi fiqh ibadah sehari hari yg kita amalkan harus lebih dipentingkan.

So’al Ilmu kewalian atau tasawwuf yg biasa ditafsirkan orang-orang yg tidak doyan dunia kehidupannya selalu kholwat menyepi ‘Ibadah menghindar dari hiruk pikuk dunia apalagi mengejar ngejar dunia, apalagi mengejar-ngejar ghoib.

Mereka justru disibukkan untuk kebersihan jasmani dan rohani dan kebeningan hati sampai kepada derajat ma’rifatullah dan mukasyafah tenggelam dalam kecintaan kepada Allah swt tidak menghendaki apapun selain dekat dengan Allah setiap tarikan nafasnya hanya Allah dan Allah.

Itu dikhususkan bagi mereka yg derajat keimanannya sudah kelas atas.

itu wajib bagi mereka tidak wajib bagi kita, tapi ketika kita melakukan ibadah misalnya sholat bahkan ketika kita hendak pergi kerja atau melakukan kegiatan apapun yg diperintah agama atau dimubahkan oleh agama nawaitu pertamanya tetap harus Lillahi ta’ala Ikhlas karena Nurut perintah Allah walaupun di ikuti dengan niat yg lainnya dan mendapatkan apa yg diniatinya asalkan sesuatunya diperbolehkan oleh agama.

Contoh niat saya bertani ikhlas karena Allah kemudian tetnyata di takdir panennya bagus hasilnya banyak , dan dari sebagian hasilnya dia buat membangun rumah buat beli motor mobil itu tidak apa-apa.

Bahkan sebagian ‘Ulama mengharamkan jika niatnya untuk membangun rumah , itu kerja bagaimana jika sholatnya ziarahnya ngaji dikuburannya tahlilannya karena amplop karena berkat atau karena lainnya karena Allah. Tasawwuf seperti itu minimalnya didalam niat, jadi namanya sama ikhlas tapi tidak sama secara prakteknya

Jika para wali ikhlasnya tarkuddunnya bilkulliyyah tidak menginginkan dunia secara keseluruhan sedangkan kita cukup niat pertamanya saja Lillahi ta’ala.

Semoga tidak salah faham ya.

Ilmu tiga ini satu paket satu kesatuan jangan dibuat tabu atau sesuatu yg wajib untuk diketahui oleh semua umat islam yg mukallaf, sehingga jangan sampai ada salah satu dari 3 Ilmu ini terpisah dari kesatuan nya diperedaran dan di majlis majlis ta’limnya.

Wallahu A’lam Bishshowaab

Akhirnya saya tutup Jazakumullah achsanal jazaa..jika ada banyak kekeliruan kata dan kesalahan itu jelas dari kebodohan saya jika ada kebenaran dan kecocokan jelas itu adalah hidayah dari Allah swt.

والعفو منكم.

Wassalam. Al faqir Abd. Muiz Albusthomi.

Referensi Kitab Ta’lim Muta’allim Kitab Hidayatul Adzkiya. Dan maqolah Al Walid.

(AM-212)