Tanjung Enim – bhayangkaraNews24.id – Begitu pentingnya melestarikan adat budaya dan sejarah untuk menguatkan mental generasi penerus agar lebih memahami identitas akar Sejarah Adat budayanya, juga menghargai dan mengerti perjuangan para Leluhur atau Puyang-Puyang terdahulu bahwa mereka adalah orang-orang yang disiplin dan memiliki mental dan fisik yang kuat , tidak seperti yang digambarkan oleh para penjajah negeri ini.

Tanjung Enim dan Muara Enim sendiri adalah sebuah kota di Provinsi Sumatra Selatan salah satu daerah penghasil Batu Bara terbesar , Wilayah ini pun memiliki Sejarah Adat budaya Lokal yang kompleks.

Berdasarkan peninggalan Naskah Kuno Prasasti Tanduk Kerbau yang bertharik Tahun 1347 M Tentang Sejarah Datangnya Kerajaan Majapahit ke Tanjung Enim yang ditulis dalam bahasa Sansekerta /Aksara Ulu dan telah di teliti oleh Arkeolog Provinsi, Pusat , dan Jogjakarta.

Adapun peninggalan Benda – benda Pusaka berupa Senjata Kujur / Tombak, Keris, Tongkat, Kujur / Tombak Pendek, Ornamen Ukiran Kijing Rumah, Alat Tenun, Alat Parutan Kelapa, Nampan kayu , Gong,dan lain-lain.

Diantara benda Pusaka peninggalan Puyang tersebut terdapat juga, Susunan data Pejabat di Pemerintahan Tanjung Enim dahulu, Serta Kopiah Air Emas, dan Payung Merah Pinggiran Kuning yang digunakan oleh Pembesar pada masa itu.

Berlandaskan Kitab Undang Hukum Adat Simbur Cahaya Sultan Kerajaan Palembang Yang Ke-9 Pangeran Sedo Ing Kenayan, Bab II Aturan Marga Pasal 21 Tahun 1636 M.

Data-data Otentik tersebut kini masih tersimpan rapih dan terjaga di rumah salah satu pewarisnya di Jln. Depati Kasih Raja RT. 07 Kelawas Dsn IV Desa Lingga Tanjung Enim Kec.Lawang Kidul Kab.Muara Enim yaitu : Panglima Baranusa ( Barisan adat Raja Sultan Nusantara ) atau Raja Kabupaten Muara Enim ialah : Gusti Sajid Al Akbar,Amd.Kep

Dalam Prasasti Tanduk Kerbau disebutkan bahwa ” Telah datang Raja Ketiga dari Kerajaan Majapahit yaitu Ratu Tribhuwana Tunggadewi bersama Mahapatih Gajah Mada, Dayang Mariti Serta Sembilan Adipatih

Sembilan Adipatih disebutkan menguasai wilayah nya masing-masing yaitu :

1.Adipatih / Riye Genti/Antus ( Puyang Desa Lingga ) memimpin dari hulu sungai Desa Darmo sampai ke Tanjung Buhuk ( Makam Beliau terletak di desa Darmo )

 

2.Adipatih / Riye Wadang / Pandak Sakti, memimpin dari Tanjung Buhuk sampai ke Karang Raja ( Makam Beliau terletak Di Tanjung Buhuk Tanjung Enim )

 

3.Adipatih / Riye Jaka Asak/Mule Metu/Suryo Adipuro memimpin dari Seberang sungai bedeng obak desa Lingga sampai ke pangkal karang raja (Gapura Rindam II/ Swj) Makam Beliau terletak di bedeng obak desa Lingga

 

4.Adipatih / Riye Jaka Riya ( Keponakan Bapak Riye Rantas), memimpin dari depan Gapura Rindam II/Swj seberang sungai sampai ketengah desa karang raja ( Makam Beliau terletak di Desa Karang Raja)

 

5.Adipatih / Riye Anak Riye Rantas ( Ronggolawe) memimpin dari Seberang sungai karang raja sampai ke jembatan 3 Muara Enim

 

6.Adipatih / Riye Surat ( Puyang Pelawe ) memimpin dari Seberang hulu sungai Buluran dari hulu sungai sampai ilir sungai Sidomulyo Talang Jawa Tanjung Enim ( Makam Beliau terletak di Buluran Talang Jawa Tanjung Enim )

 

7.Adipatih / Riye anak Riye Surat/Puyang Tekedum memimpin dari Seberang ilir sungai Sidomulyo Talang Jawa Tanjung Enim sampai ke Bedeng Obak Tanjung Enim. ( Makam Beliau di Sidomulyo Talang Jawa Tanjung Enim) .

 

 

8.Adipatih / Riye Ganta / Riye dalam hutan ( Senuling / Puyang Harimau) Cucung dari Riye Gahaka. Memimpin seluruh hutan di Transosial desa Karang Raja ( Makam beliau di Transosial Desa Karang Raja).

 

 

9.Adipatih / Riye Unang / Puyang Petinggi. Memimpin dari Jembatan 3 Muara Enim sampai ke Teluk Tanjung Raman. ( Makam beliau di dekat Jembatan 3 Muara Enim).

 

Disebutkan juga bahwa membelah daerah ikatan airnya melewati titian Muara diteruskan sehingga sampai ke tengah Muara kuang, ditandai daerah ulu lematang di tanahnya Indaralaya.

 

Saat Ditemui di kediaman *Gusti Sajid Al Akbar, Amd.Kep* Sebagai Panglima Baranusa juga sebagai Raja Kab. Muara Enim Menuturkan

 

” Kita tekankan Agar Semua Pihak dari Swasta / perusahaan hingga pemerintahan agar Mendukung dan mensuport hal-hal yang berhubungan dengan pelestarian adat budaya lokal dan ikut menjaga lingkungan ” .tutupnya ( Ero )