
Melaya bhayangkaranews24.id – Enam Hari Usai perayaan Hari Raya Umat Islam (Idul Fitri), hari Raya masih terasa dengan nuansa berbeda, di saat Hari Raya Idul Fitri berbagai macam suguhan makanan berupa kue/jajanan buah-buahan seperti buah Kurma dan lainnya, namun di saat lebaran ketupat olahan masakan ketupat dengan sayur santan dan kupat lepet itulah yang di rayakan oleh warga Muslim Pangkung Tanah Melaya Jembrana yaitu Lebaran Ketupat. Sabtu (29/4).
Lebaran ketupat bagi warga Muslim/adat Jawa ini, selalu menjadi tradisi turun-temurun sampai kini, dimana tatkala usai perayaan Hari Raya Idul Fitri, 6 hari kemudian di rayakan dengan lebaran ketupat, sehari sebelum merayakan lebaran ketupat khususnya ibu-ibu rumah tangga warga muslim Pangkung Tanah, sibuk membuat masakan ketupat yang dibungkus dengan daun janur kuning maupun daun pisang, sayur serta daging ayam kampung sebagai campuran pelengkap makanan khas ketupat lebaran, selain ketupat juga ada kupat lepet berbahan dari beras ketan dan kelapa yang isi dengan kacang tanah juga potongan buah pisang lalu direbus hingga berjam jam lamanya.
Tradisi warga muslim setempat saling berbagi makanan ketupat mulai terlihat, dalam bahasa adat jawa adalah Tonjok, Ater-ater (berbagi makanan) kalau di Bali Ngejot, Tonjok Menonjok sudah menjadi tradisi warga Muslim di Melaya maupun di pulau jawa, Tradisi ini bukan hanya berlaku saat lebaran ketupat saja namun juga saat perayaan hari -hari besar Islam dan acara adat.
Salah satu tokoh sesepuh warga dari Banjar Pangkung Tanah Kangin Desa Melaya, Agus Riyanto (63) katakan, memang benar Tradisi Jawa Nonjok/Ngejot di Bali, bila kami warga adat jawa bilangnya Nonjok tapi bukan Nonjok berbuat kekerasan terhadap orang lain. Tonjok menonjok adalah bahasa kami ketika bila akan membawakan makanan kepada sanak saudara ke tetangga kita bilangnya Nonjok selain berbagi, kita juga melaksanakan lebaran ketupat di Mushola dengan membawa hasil olahan makanan ketupat, lalu bersama-sama membaca Tahlil kirim doa kepada para leluhur, dan acara terakhirnya kita makan bersama.
Agus Riyanto menambahkan, makna lebaran ketupat adalah tradisi dan budaya kami, ini merupakan filsafat adanya kupat lepet ketika tepat satu minggu/6 hari setelah hari raya Idul Fitri yang bermakna kupat lepat,lepet luput, yang artinya: segala kesalahan dan kekhilafan bisa di maafkan dengan lahir batin merupakan jalinan persaudaraan dari yang muda terhadap yang tua, acara tradisi Nonjok/ Ngejot kita berbagi bukan hanya terhadap umat Muslim saja. “Namun juga berbagi kepada umat lain, setelah perayaan lebaran ketupat maka kita semua menjalankan aktivitas masing-masing seperti hari-hari biasa pungkasnya,” tutup Agus.
(SA-200).


