TULANG BAWANG bhayangkaranews24.id Proyek revitalisasi sekolah di TK Bakti Yuda, Kampung Tri Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, diduga tidak dikerjakan dengan benar sesuai aturan, Sabtu 19/9/2026.
Bantuan negara sebesar Rp 437.067.000 mustinya wajib dikerjakan dengan benar. Bukan untuk jadi bancak – bancakan para pihak. Gedung di bangun di lokasi tanah milik pribadi, bukan fasilitas umum milik aset desa atau dihibahkan ke masyarakat. Mengapa bisa mendapatkan bantuan.
Secara umum dan menyeluruh di sekolah – sekolah, di temukan indikasi atau dugaan upaya tindak pidana korupsi, yaitu :
1. Diduga dana bantuan di potong 12 persen
2. Material rangka baja campuran. Ada SNI AZ 100 ada juga polosan, dioplos.
3. Status lahan tanah milik pribadi atau dihibahkan formalitas dari miliknya sendiri ke keluarganya sendiri
4. Diduga tidak memiliki perizinan mendirikan bangunan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan dasar lainnya.
5. Bantuan tidak tepat sasaran. Sekolah menerima bantuan berturut turut. Ada sekolah yg tidak pernah mendapatkan bantuan
6. Material baja ringan / rangka baja di kondisikan oleh dinas
7. Bangunan menggunakan besi ukuran 8 mm dan 10mn
8. Galian kedalaman pondasi kurang 30 cm di dalam tanah
9. Panitia Pembangunan (P2SP) hanya formalitas. Tidak memegang dana, tidak melakukan pengawasan jenis pekerjaan dan kualitas pekerjaan.
10. Konsultan pengawas hanya formalitas, tidak melakukan pengawasan secara berkala atau bertahap. Tidak menjalankan tugas dan fungsi dengan baik.
11. Pemasangan atap baja ringan tidak kokoh dan rawan rusak terbang terbawa angin kencang.
12. Ada indikasi pembiaran, apakah pekerjaan dilaksanakan dengan baik atau tidak
Berdasarkan penelusuran di lapangan, ditemukan adanya bahan material baja ringan oplosan. Ada yang SNI AZ 100 ada juga yang polos tanpa kode. Hal ini adalah bentuk tindakan penyimpangan yang melanggar hukum.
Belum lagi, material besi mengunakan ukuran 10 mm dan 8 mm, ada juga sebagian menggunakan besi ukuran 12 mm. Penggunaan bahan material tidak sesuai isi kontrak kerja.
Sementara itu, Kepala TK Bakti Yuda Tritunggal Jaya, Surosowati, belum bisa dikonfirmasi, upaya konfirmasi selalu gagal, karena yang bersangkutan tidak berada dirumah dan tidak ketemu pada saat wartawan mengunjungi lokasi bangunan proyek.
Terhitung sudah lima kali upaya konfirmasi belum mendapatkan hasil. Pada saat di kunjungi di lokasi bangunan dan dikediamannya tidak ketemu. Tim redaksi terpaksa harus melakukan upaya konfirmasi pada malam hari dan bertemu dengan suami kepala TK.
”Ibu kepala sekolah, itu benar istri saya, dia tidak ada di rumah, sedan ada acara dari jam lima sore tadi belum pulan,”terang suami kepala TK Bakti Yuda, kemarin.
Sementara itu, para aparatur Kampung Tritunggal Jaya juga mengaku tidak tahu soal status tanah tersebut. Menurutnya hingga saat ini tidak ada tembusan ataupun kordinasi, meskipun titik lokasi dana bantuan pemerintah berada di wilayah Pemerintahan Kampung Tritunggal Jaya.
”Kami tidak tahu bang di mana lokasi bangunan proyek bantuan dari pemerintah tersebut. Tidak ada komunikasi ataupun hanya sebatas basa basi menerima bantuan,”terang salah satu aparat kampung setempat, kemarin.
Ada poin penting dugaan penyimpangan, pertama adalah menggunakan material baja ringan oplosan, kedua bahan material besi oplosan, kemudian di bangun di tanah pribadi. Terakhir adalah mencari keuntungan pribadi dan kelompok tertentu.
Hingga berita ini di terbitkan, belum ada tanggapan resmi atau konfirmasi ulang dari pihak sekolah maupun dari para pihak – pihak terkait.



