Tangerang – bhayangkaranews24.id, H. Zulkarnain, SE., Bakal Calon Bupati Kabupaten Tangerang, dalam slogan di spanduknya menuliskan, “duduk sama rata berdiri tanpa raja”.

Duduk sama rata berdiri tanpa raja merupakan salah satu pernyataan bermakna konotasi. Makna konotasi timbul ketika makna suatu kata atau rangkaian kata berbeda dengan makna kata atau rangkaian kata penyusunnya. Oleh karena itu, makna ini juga dikenal sebagai makna bukan yang sebenarnya. ‘Lantas, “apa yang dimaksud dengan pernyataan bakal calon Bupati Kabupaten Tangerang yang satu ini ??

Arti dari duduk sama rata dan berdiri tanpa raja adalah kedudukan setiap orang pada dasarnya sama. Duduk sama rata berarti tidak ada orang yang lebih tinggi. Berdiri tanpa raja berarti tidak ada orang yang mendapat keistimewaan lebih. “Semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan”, itu sepertinya maksud yang disampaikan oleh H. Zulkarnain terkait slogan tersebut.

Disamping seorang publik pigur di Kabupaten Tangerang, nama H. Zulkarnain kian melonjak secara pesat, terlebih semenjak dirinya dipinta oleh banyak Ulama Tangerang dan Kawan-kawannya di Ormas Pemuda Pancasila (PP), untuk mencalonkan sebagai Bupati Kabupaten Tangerang, alih-alih saat seringkali duduk bersama dengan Ulama kharismatik Kabupaten Tangerang, tepatnya di Kampung Sukamantri Desa Cilongok Kecamatan Pasar Kemis, Yakni KH. Abuya Tohawi (Abah Ntoh Cilongok).

H. Zulkarnain dalam obrolan santainya mengatakan, “kita ini bukan orang partai, kita independen, kita ini hanya seorang aktivis dan Pengusaha, namun ternyata tidak disangka juga, seorang Abuya saja di kabupaten Tangerang ini ikut memberikan dukungan kepada saya, saya sangat bersyukur dan sangat terharu dalam hal itu, karena ini adalah do’a buat saya agar menjadi seorang yang lebih amanah lagi terhadap jabatan.”Ungkapnya

Ayolah, jika masyarakat mau berfikir lebih produktif lagi, selama berpuluh-puluh tahun, kita ini sering kali dijajah oleh para oknum, banyak sekali tugas kita nanti, untuk sama-sama kita benahi di kabupaten Tangerang ini.”Imbuhnya dengan Nada menghayati sebuah keadaan yang sangat memperihatinkan.

Turut hadir dalam obrolan santai tersebut yaitu tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan para aktivis dari berbagai kecamatan di kabupaten Tangerang.

(AM-212)