Jakartabhayangkaranews24.id, Ucapan tegas dan tajam kembali datang dari Alwiyan Rakjat Biasa, Tokoh Muda Banten, yang menyoroti isu sensitif seputar klaim kewalian Faqih Muqoddam. Dalam pernyataannya yang viral seorang Habib di media sosial terkait cerita pengakuan diri Faqih Muqoddam sebagai Waliyullah yang mengaku lebih tinggi dari wali mana pun hingga pengakuannya didatangi Malaikat Jibril beberapa kali, Alwiyan menegaskan bahwa pengakuan diri seseorang sebagai Waliyullah adalah bentuk kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

 

“Seandainya Faqih Muqoddam di depan saya mengaku waliyullah, saya suruh dia insyaf dan tobat. Karena hal itu mendustai Allah dan Rasul-Nya,” tegas Alwiyan dalam keterangan resminya.

 

 

Menurut Alwiyan, konsep kewalian tidak bisa diukur dari klaim pribadi, ketenaran, atau pengikut yang banyak. Ia menilai, banyak umat saat ini mudah terbuai dengan gelar-gelar spiritual yang tidak jelas asal-usulnya, bahkan menjadikan tokoh tertentu seolah maksum dan tidak boleh dikritik.

 

“Sebagai muslim wajib mengimani adanya waliyullah sebagai bentuk keimanan terhadap Alqur’an dalam surat Yunus ayat 62-63, waliyullah itu tidak pernah mengaku waliyullah, bahkan dirinya pun tidak mengetahui bahwa dirinya adalah waliyullah, justru jika ada orang mengaku dirinya waliyullah, di situlah letak kerusakannya, karena penganugerahan gelar kewalian kepada seseorang adalah hak prerogatif Allah dan diberikan kepada hamba-hambaNya yang dinilai ikhlas dalam iman dan taqwa menurut Allah bukan menurut manusia, karenanya gelar kewalian bukanlah gelar dari manusia,” ujarnya menambahkan.

 

 

Alwiyan juga menegaskan bahwa klaim spiritual tanpa landasan ilmu dan adab justru dapat merusak akidah umat. Ia mengingatkan ummat Islam untuk berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, dan bimbingan para ulama muktabar, bukan pada “cerita-cerita mistik” yang dikultuskan.

 

Pernyataan Alwiyan ini sontak menuai berbagai reaksi. Sebagian pihak menilai langkahnya berani dan menyegarkan, di tengah maraknya fenomena “spiritualisme instan” dan kultus individu yang menyesatkan umat. Namun, sebagian lainnya menganggap ucapannya terlalu keras terhadap sosok yang diyakini sebagian pengikutnya memiliki maqam tertentu.

 

Menutup pernyataannya, Alwiyan kembali mengingatkan bahwa Islam melarang keras pengkultusan terhadap manusia. Ia menyerukan agar ummat Islam berhati-hati dalam menilai seseorang sebagai waliyullah sebagaimana Allah mewanti-wanti dalam QS. Annajm 32 dan QS. Al isro 36, agar jangan menilai diri suci apalagi menilai orang lain suci tanpa pengetahuan yang sahih, karen hal penilaian adalah hak prerogatif Allah.

 

“Kita tidak bisa menilai seseorang secara hakikat sebenarnya adalah waliyullah, adapun tanda-tanda secara lahiriyah sholih, itu agar kita menjaga adab kepada orang yang secara lahiriyah sholih yang mewarisi ahlak mulia Nabi Saw, rendah hati, tapi kalau pengakuannya tinggi dan merasa suci maka hakikatnya sedang mempertontonkan akhlaknya yang rendah di hadapan Allah,” pungkasnya dengan nada tajam.

 

Redaksi Bhayangkaranews24.id

(AM-212)