Jakarta Selatan — Bhayangkaranews24.id, Badan Narkotika Nasional bersama RMI NU DKI Jakarta menggelar seminar bertajuk “Vape dalam Bahaya” yang menyoroti dampak serius penggunaan rokok elektronik di kalangan santri. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan mengusung tema Sosialisasi Bahaya Penggunaan Vape untuk Pesantren.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua RMI NU DKI Jakarta KH. Rahmad Zaelani Kiki sebagai tuan rumah, Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN) Gus Rofi yang juga bertindak sebagai host, serta Irjen Agus Irianto yang mewakili Kepala BNN Suyudi Ario Seto.
Dalam sambutannya, Gus Rofi tampil penuh semangat mengajak generasi muda, khususnya para santri, untuk tidak terjebak dalam gaya hidup yang merusak kesehatan dan masa depan. Ia menekankan bahwa fenomena vape saat ini tidak bisa dianggap remeh, karena berpotensi menjadi pintu masuk perilaku adiktif yang lebih berbahaya.
Sementara itu, KH. Rahmad Zaelani Kiki menegaskan pentingnya peran pesantren sebagai benteng moral dan kesehatan umat. Menurutnya, edukasi mengenai bahaya vape harus terus digencarkan agar para santri memiliki kesadaran sejak dini untuk menjauhi hal-hal yang merusak diri.
Dalam pemaparan materi, Irjen Agus irianto mengungkapkan berbagai temuan dari BNN terkait vape. Ia menjelaskan bahwa secara fisik, bentuk vape kerap menyerupai alat konsumsi narkotika, sehingga berpotensi disalahgunakan. Bahkan, dalam sejumlah kasus ditemukan indikasi kandungan berbahaya, seperti logam berat hingga kemungkinan zat narkotika seperti ganja cair yang dicampurkan melalui laboratorium ilegal.
“Zat yang masuk ke dalam tubuh melalui vape tidak sepenuhnya diketahui. Kandungan logam dan bahan kimia dapat merusak sel tubuh, memengaruhi jantung, serta mengganggu suplai oksigen yang seharusnya berfungsi untuk regenerasi sel,” ujar Irjen Agus irianto.
Suasana seminar berubah haru ketika seorang bapak lansia maju secara sukarela memberikan kesaksian. Ia menceritakan kehilangan anak dan keponakannya yang meninggal dunia setelah menggunakan vape selama kurang lebih satu tahun. Keduanya mengalami gangguan paru-paru serius dan hanya dalam waktu dua minggu, nyawa mereka tidak tertolong.
Kesaksian tersebut menggugah perhatian seluruh peserta. Menanggapi hal itu, Irjen Agus irianto menyatakan bahwa kisah nyata seperti ini sangat penting untuk disampaikan kepada publik secara luas.
“Pada tanggal 26 Juni mendatang, bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional, kami akan mengundang bapak ini secara khusus untuk memberikan testimoni,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan vape dapat memicu ketergantungan, bahkan meningkatkan risiko penyalahgunaan narkotika. Berdasarkan data BNN, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai sekitar 2,11 persen atau setara dengan 4,1 juta jiwa.
Di sisi lain, Gus Rofi turut menjaga suasana seminar tetap interaktif. Dalam sesi tanya jawab, ia memberikan apresiasi kepada peserta dengan membagikan voucher makan gratis selama satu bulan di kawasan Jakarta Selatan kepada tiga penanya terbaik. Langkah ini disambut antusias oleh peserta sebagai bentuk motivasi sekaligus kepedulian.
Lebih lanjut, Irjen Agus juga menyinggung aspek ekonomi dalam peredaran narkotika yang sangat menggiurkan, mulai dari harga ganja yang relatif terjangkau hingga nilai fantastis sabu dan heroin yang mencapai miliaran rupiah per kilogram. Hal ini menjadi salah satu faktor kuat maraknya peredaran narkoba, termasuk melalui modus baru seperti penyalahgunaan vape.
“Jika sesuatu belum jelas manfaatnya, apalagi berpotensi membahayakan, maka sebaiknya ditinggalkan,” tegasnya.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren, terhadap bahaya tersembunyi di balik penggunaan vape. Sinergi antara BNN, RMI NU, dan berbagai elemen masyarakat dinilai krusial dalam mencegah meluasnya penyalahgunaan zat berbahaya di Indonesia.
(AM-212)



