Bandung – Bhayangkaranews24.id, Diskusi terbuka antara Cak OFi, Ketua Umum BKN, dengan KH. Alawi Nurul Alam al-Bantani, penulis buku Fikih Verifikasi & Tafsir: Brutal Intellectual Honesty (BIH) atas Nasab Ba’Alawi, menjadi sorotan publik di awal 2026. Dialog ilmiah tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pada Pengajian Kebangsaan dan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar sebagai forum kajian keislaman, kebangsaan, dan keilmuan berbasis manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 22 Januari 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, bertempat di Halaman Pondok Pesantren Tarbiyatut Thullab, Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, ulama, akademisi, serta aparatur negara, dan menjadi ruang dialog terbuka atas isu-isu strategis umat dan bangsa.

 

Dalam diskusi tersebut, Cak OFi menegaskan bahwa persoalan nasab Ba’Alawi tidak dapat terus dibiarkan bergulir dalam ruang narasi, popularitas, dan sentimen sosial semata. Ia mempertanyakan secara terbuka dasar ilmiah klaim nasab sejumlah tokoh yang selama ini dikenal luas di tengah masyarakat sebagai habib, sebagaimana dikaji dalam buku karya KH. Alawi.

 

“Menurut penjelasan dalam buku Yai, nama-nama yang selama ini dikenal luas itu tidak termasuk dzurriyyah Nabi. Lalu bagaimana cara mengukur dan menilainya secara ilmiah?” tanya Cak OFi dalam forum diskusi tersebut.

 

Menanggapi hal itu, KH. Alawi Nurul Alam al-Bantani menjelaskan bahwa penilaian nasab harus tunduk pada kaidah ilmiah yang telah diwariskan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia mengutip kaidah Imam Al-Laits bin Sa‘d:

“In shohhal aslu shohhal furu‘u, wa in fasadal aslu fasadal furu‘u.”Artinya, apabila sumbernya sahih, maka cabangnya juga sahih; namun jika sumbernya rusak, maka cabang-cabangnya pun rusak.

 

Menurut KH. Alawi, pembuktian kejernihan sumber hanya dapat dilakukan melalui sanad yang bersambung secara estafet (bittatabbu’), tidak terputus (ghairu munqathi’), dan dapat diverifikasi secara historis. Ia menyoroti adanya kekosongan data sejarah selama kurang lebih 600 tahun dalam klaim nasab tertentu yang selama ini diterima secara turun-temurun.

 

Ia mengilustrasikan kondisi tersebut seperti sebuah jembatan nasab yang runtuh berabad-abad, lalu tiba-tiba diklaim tersambung kembali tanpa penjelasan siapa yang membangun kembali mata rantai yang hilang itu. “Secara logika ilmiah, ini tidak mungkin. Jika mata rantainya tidak ada, maka klaim cabangnya otomatis gugur,” tegasnya.

 

Cak OFi kemudian menindaklanjuti dengan pertanyaan kritis mengenai dasar kesimpulan tersebut. Menjawab hal itu, KH. Alawi menyatakan bahwa kesimpulannya bukan berdasar asumsi, melainkan hasil pembacaan dan verifikasi terhadap sekitar 30.000 jalur periwayatan, dengan lebih dari 216 sumber primer dan sekunder. Seluruh penelusuran tersebut, menurutnya, menunjukkan hasil negatif terhadap klaim nasab yang tidak memiliki pijakan sanad yang sahih.

 

Diskusi ini juga menegaskan posisi buku Fikih Verifikasi & Tafsir: BIH atas Nasab Ba’Alawi sebagai ajakan terbuka untuk kembali pada kejujuran ilmiah tanpa kompromi. Prinsip Brutal Intellectual Honesty (BIH) menolak klaim yang hanya berdiri di atas tekanan sosial, popularitas, atau narasi tanpa data.

 

Selain KH. Alawi Nurul Alam al-Bantani, acara Pengajian Kebangsaan & Harlah NU tersebut juga akan menghadirkan sejumlah pembicara nasional, antara lain:

KH. Marzuki Mustamar (Pengasuh Ponpes Sabilurrosyad, Malang)

Irjen Pol. R. Ahmad Nurwahid, S.E., M.M. (Staf Khusus Kemenko PMK & Mantan Direktur Pencegahan BNPT)

KRT. Gus Faqih Wirohadiningrat (Bani Amangkurat I, Pasuruan – Jawa Timur)

Mayjen TNI (Purn) Dr. Ir. Pujo Widodo, S.E., S.H., S.T., M.A., M.D.S., M.Si. (Han)(Mantan Dekan Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan RI)

Bapak Hendi Lesmana (Staf Khusus Irjen Kemenhan)

KH. Syaikhu Rizal (Ketua PWLS Jawa Timur)

 

Acara ini juga dirangkaikan dengan bedah buku karya KH. Alawi Nurul Alam al-Bantani, yang menjadi salah satu sesi paling dinanti karena mengangkat isu sensitif nasab dengan pendekatan ilmiah dan metodologis.

 

Menutup diskusi, Cak OFi menekankan pentingnya adu ilmu dan adu data dalam menyikapi isu-isu krusial umat. “Ini ilmu, bukan adu otot. Kalau mau diskusi, mari kita adu data, bukan adu narasi,” ujarnya.

 

Diskusi antara Cak OFi dan KH. Alawi Nurul Alam al-Bantani ini dinilai menjadi salah satu dialog intelektual paling menonjol di tahun 2026, karena berhasil menggeser perdebatan nasab dari ruang emosional menuju medan verifikasi ilmiah yang ketat, terbuka, dan bertanggung jawab.

 

Redaksi bhayangkaranews24.id

(AM-212)