SERANG — bhayangkaranews24.id, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten, KH. Abi Hafiz Gunawan, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas perjuangan dan keteladanan Bapak Efi Suaefi, seorang kuli bangunan asal Kampung Nambo, Desa Nambo, Kaserangan, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, yang berhasil mendidik kedua putra-putrinya menjadi Hafidz dan Hafidzah Al-Qur’an.

 

Kisah perjuangan Efi Suaefi menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menghadirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Di tengah kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan, ia tetap menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada kedua buah hatinya hingga keduanya mampu menghafalkan Kalamullah.

 

Bagi KH. Abi Hafiz Gunawan, perjuangan tersebut merupakan bentuk pendidikan yang sangat bernilai. Orang tua tidak hanya memberikan pendidikan melalui fasilitas dan materi, tetapi juga melalui keteladanan, kesabaran, doa, serta perjuangan tanpa mengenal lelah.

 

«“Masya Allah, membangun rumah dengan tangan, membangun generasi Qur’ani dengan hati.”»

 

Ungkapan tersebut menjadi gambaran betapa mulianya perjuangan seorang ayah yang sehari-hari membangun rumah dan bangunan orang lain, tetapi pada saat yang sama juga sedang membangun masa depan keluarganya dengan menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada putra-putrinya.

 

KH. Abi Hafiz Gunawan juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan putra-putri Nahdliyyin di Indonesia dan terlebih di Provinsi Banten. Menurutnya, lahirnya generasi Qur’ani merupakan investasi besar bagi masa depan umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

 

Kisah Efi Suaefi menjadi pesan penting bahwa keberhasilan mendidik anak tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar kemampuan ekonomi orang tua. Dengan kesungguhan, doa, keteladanan dan perhatian terhadap pendidikan agama, keluarga sederhana pun mampu melahirkan generasi yang membanggakan.

 

Perjuangan tersebut layak menjadi inspirasi bagi para orang tua, khususnya keluarga Nahdliyyin, agar terus memberikan perhatian terhadap pendidikan agama dan Al-Qur’an bagi putra-putrinya.

 

Dari tangan seorang kuli bangunan, lahir sebuah karya yang jauh lebih besar: generasi yang membawa Al-Qur’an dalam hati.

 

(AM-212)