https// Bhayangkaranews24.id/Dalam hiruk-pikuk janji pembangunan yang kerap kita dengar,ada sebuah perbedaan mendasar yang sering luput dari perhatian kita.

Perbedaan itu terletak pada satu kata kecil,namun berakibat fatal jika salah dimaknai;kata depan”di”.

Secara filosofis dan sosiologis,ada jurang yang dalam antara kebijakan yang bertujuan “membangun di Simalungun” dengan semangat untuk ” membangun Simalungun”.

1.Membangun ” di” Simalungun; Pendekatan Fisik & Objek kata depan “di”Simalungun –mulai dari investor Asing,pengusaha besar,hingga pemerintah pusat.

 

Sifatnya:fisik dan material.

Fokus utamanya adalah menambah jumlah gedung membentangkan jalan tol,atau pengadaan aset aset mewah.

Resikonya: Simalungun hanya di posisi kan sebagai “panggung” proyek.

Contoh nyata yang menyakitkan adalah pengadaan mobil dinas tahun 2021 yang kita seolah “hilang di telan bumi”.ini adalah residu dari pola pikir yang hanya mengejar pengadaan fisik,namun abai pada pertanggungjawaban moral dan keberlanjutan aset daerah.

Hasilnya: Rakyat di suguhi angka belanja yang besar,namun manfaat nya hilang entah kemana, menciptakan keterasingan bagi warga lokal di tanah kelahirannya sendiri.

2.Membangun “SIMALUNGUN”pendekatan Subjek &  Marwah .

Menghilangkan kata”di”mengubah seluruh paradigma,membangun simalungun berarti membangun sumberdaya manusia,memperkuat kebudayaan,dan menjamin Marwah masa depan generasi muda masyarakat Simalungun.

Fokusnya:investasi pada pendidikan,kesejahteraan petani,pelestarian bahasa,dan kejujuran dalam mengelola setiap rupiah uang rakyat.

Hasilnya: kemajuan yang memiliki”ruh”.

Jika manusianya sudah di bangun dengan semangat karakter Habonaron, tidak akan ada lagi cerita aset daerah seperti mobil dinas yang hilang tanpa jejak,karena transparansi telah menjadi adab dalam bekerja.

Analisis:Antara semen dan jiwa Dalam kacamata Habonaron Do Bona,kita tidak boleh terjebak hanya pada euforia”Membangun di Simalungun”,jika kita hanya mengejar kemegahan gedung tanpa membangun manusianya,kita sebenarnya sedang membangun istana di atas pasir yang rawan runtuh oleh badai korupsi dan ketidak jujuran.

Membangun Simalungun berarti memastikan bahwa setiap kemajuan yang datang harus membawa kebenaran dan keadilan bagi masyarakat nya.

Bukan sekedar bicara”proyek mobil dinas baru”,tapi”, di mana mobil itu sekarang dan apa manfaatnya bagi pelayanan rakyat??”,bukan sekedar perubahan nama gedung”,tapi apakah fungsi gedung itu menguatkan adat dan adab kita?”

Kesimpulannya: jangan Menukar urutan Simalungun memang butuh keduanya.

Namun urutannya tidak boleh ditukar,kita harus membangun Simalungun,(manusianya,sistemnya,adabnya) terlebih dahulu,barulah kita bisa Membangun di Simalungun dengan benar.

 

Tanpa membangun manusianya lebih dulu,setiap pembangunan fisik di tanah Simalungun ini hanya akan menjadi monumen keserakahan yang tidak berakar pada kebenaran.

Mari kita pastikan bahwa setiap deru pembangunan di bumi Habonaron Do Bona adalah untuk kedaulatan pemilik rumah,bukan sekedar memuaskan nafsu para pemburu proyek yang meninggalkan”,jejak misterius”pada aset daerah Simalungun,7 Februari 2026