JakartaBhayangkaranews24.id, Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi perhatian publik seiring viralnya pernyataan Muhammad Rofi’i Mukhlis atau yang akrab disapa Cak OFi, Leader Nahdliyin United. Dalam keterangannya kepada awak media, Cak OFi menegaskan bahwa jihad paling relevan hari ini di tubuh NU adalah jihad bijak, yakni perjuangan menjaga organisasi tetap berpijak pada konstitusi, adab kiai, dan ukhuwah Nahdliyah.

 

Mengawali pernyataannya dengan salam dan doa, Cak OFi menyampaikan keprihatinannya atas perubahan sikap Kiai Zulfa pasca-penunjukan sebagai Penjabat (PJ) melalui forum pleno yang ia nilai bermasalah secara hukum. Menurutnya, sosok yang selama ini dikenal adem dan teduh justru terseret ke pusaran konflik.

 

“Biasanya beliau adem, teduh. MasyaAllah. Tapi setelah ditunjuk jadi PJ dari hasil pleno yang cacat hukum, malah masuk ke konflik,” ujar Cak OFi.

 

Ia menegaskan bahwa jihad bijak bukanlah memperuncing pertentangan, melainkan menjaga marwah jam’iyah. Karena itu, Cak OFi menyebut para kiai sepuh dan mustasyar telah mengingatkan agar Kiai Zulfa berpikir matang dan tidak larut dalam konflik internal NU.

 

“Eman loh jenengan. Jenengan ini sebenarnya sudah naik, sudah di posisi terhormat. Harusnya menjadi penengah, bukan ikut konflik,” tegasnya.

 

Cak OFi juga menyinggung peristiwa sowan Kiai Zulfa kepada KH. Ma’ruf Amin. Ia menyayangkan munculnya pernyataan di ruang publik yang menyebut memperoleh restu, sementara KH. Ma’ruf Amin kemudian menyampaikan klarifikasi secara terbuka. Klarifikasi tersebut, kata Cak OFi, kini menjadi pegangan pengurus NU di berbagai daerah.

 

“Beliau akhirnya berbicara. Dan itu menjadi pegangan pengurus NU se-Indonesia. Karena persoalan ini dianggap memutarbalikkan fakta, dan dampaknya internasional,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Cak OFi menekankan bahwa jihad bijak dan islah sejati harus dimulai dengan menghormati kepemimpinan yang sah. Ia menolak keras narasi islah yang tidak dibarengi adab terhadap struktur organisasi.

 

“Kalau mau bicara islah, hormati Ketua Umum PBNU Gus Yahya, dan hormati Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar. Tanpa itu, islah hanya slogan,” katanya.

 

Ia kembali menegaskan pesan KH. Ma’ruf Amin bahwa pemberhentian Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam PBNU hanya dapat dilakukan melalui Muktamar, sebagaimana diatur dalam konstitusi organisasi.

 

“Pemecatan Ketua Umum PBNU atau pemberhentian Rais Aam PBNU itu hanya lewat Muktamar. Bukan lewat forum lain,” tegasnya.

 

Menutup pernyataannya, Cak OFi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi tersebut. Ia menilai bahwa jihad bijak seharusnya menghadirkan keteduhan, bukan kegaduhan.

 

“Eman, eman, eman. Saya malu dan sedih. Saat seharusnya menjadi peneduh, malah terseret konflik. Mari kembali ke adab, konstitusi, dan ukhuwah Nahdliyah,” pungkasnya.

 

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Muhammad Rofi’i Mukhlis, Leader Nahdliyìn United, yang juga dikenal sebagai pemilik Kampung Family di Kediri dan Jakarta Selatan.

 

Redaksi bhayangkaranews24.id

(AM-212)