JAKARTA – bhayangkaranews24.id,
Minggu 26/07/2026
Persahabatan yang terjalin sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1968 menjadi bukti bahwa waktu tak mampu mengikis ikatan persaudaraan sejati. Berawal dari kecintaan terhadap seni pertunjukan, empat sahabat ini mendirikan grup tari independen bernama Amora sekitar tahun 1970.

Cikal bakal terbentuknya Amora bermula ketika keempatnya aktif sebagai penari, pemain drama, dan peragawati dalam sebuah grup kesenian Minang saat menempuh pendidikan di universitas masing-masing. Berbekal semangat berkarya dan keinginan untuk mandiri secara finansial, mereka diam-diam membentuk grup sendiri tanpa sepengetahuan pimpinan grup tempat mereka bernaung saat itu.
Mengusung Modernisasi Tari Tradisional
Amora hadir dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan grup tari pada masanya. Mereka memilih memodernisasi tarian tradisional, khususnya tari-tarian khas Sumatera Barat seperti Tari Piring, tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Tak hanya mengembangkan koreografi, mereka juga merancang sendiri busana dan kostum yang dikenakan dalam setiap penampilan sehingga menghadirkan nuansa yang lebih segar dan menarik.
Perjalanan karier Amora dimulai ketika mereka memberanikan diri menawarkan pertunjukan ke sebuah restoran dan bar ternama di kawasan Gajah Mada, Jakarta, yang saat itu diiringi orkestra pimpinan Oto Cend. Dari sana, nama Amora mulai dikenal dan dipercaya tampil di berbagai acara mahasiswa, klub malam, hingga berbagai pertunjukan seni daerah.
Grup Amora diperkuat oleh empat personel, yaitu:
Ida Saf
Ati Cancer
Ida Cancer
Adrie Mutia (Adik)
Menempuh Jalan Hidup Masing-masing
Seiring berjalannya waktu, para personel Amora memasuki babak baru kehidupan. Setelah menikah dan berkeluarga, tiga anggota memilih berfokus menjadi ibu rumah tangga sekaligus berkarier sebagai pegawai di berbagai perusahaan.
Sementara itu, Ati Cancer tetap konsisten mengabdikan dirinya di dunia seni dan hiburan Indonesia. Kariernya dimulai sejak usia 12 tahun melalui teater sekolah, kemudian berkembang ke RRI, TVRI, panggung teater, hingga membintangi berbagai film layar lebar sebagai aktris profesional.
Persahabatan yang Tetap Terjaga
Walaupun kini tidak lagi aktif menari sebagai profesi utama, ikatan persahabatan keempat personel Amora tetap terjalin erat layaknya sebuah keluarga. Setiap bulan Juli, mereka rutin mengadakan reuni tahunan sekaligus merayakan hari jadi Amora serta ulang tahun para personelnya yang berdekatan.
“Alhamdulillah, kami masih bisa berkumpul dan berjalan bersama, meski kondisi fisik sudah tidak selincah dulu. Yang terpenting, persahabatan ini tetap solid, saling mendukung, dan terus terjaga hingga sekarang,” tutur Ati Cancer penuh rasa syukur.
Lebih dari lima dekade telah berlalu, namun kisah Amora membuktikan bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar kepercayaan, perjuangan, dan kecintaan terhadap seni akan tetap abadi, menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjaga persahabatan dan melestarikan budaya Indonesia.
joSSer
( KAPERWIL DKI )



