‎WAY KENANGA, TUBA BARAT, 8 Oktober 2026 – bhayangkarabews24.id . Proyek revitalisasi Swakelola di SMPN 17 Way Kenanga, Kabupaten Tulangbawang Barat dengan pagu anggaran sebesar Rp 1.349.224.000 diduga bermasalah dan disinyalir menjadi ajang mencari keuntungan bancakan kelompok tertentu.

‎

‎Pasalnya, berdasarkan dari penelusuran, besi yang digunakan tidak sesuai ukuran, rangka baja / baja ringan dan spandek yang digunakan tidak sesuai standar juknis dan juklak dalam RAB. Bahkan ada besi sudah berkarat. Tidak ada besi ulir ukuran 12 mm. Kemudian teknik pekerja tidak mengacu pada gambar.

‎

‎Dan terparahnya lagi, pihak kepala sekolah tidak memberdayakan ataupun melibatkan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) secara penuh sesuai dengan tupoksi dan fungsinya sebagai pelaksana kegiatan proyek.

‎

‎Ketua P2SP Abdul Rohman, saat ditemui dikediamannya menerangkan bahwa, nama dirinya betul dicantumkan sebagai Ketua P2S. Ia mengaku tidak diberikan kewenangan untuk menentukan bahan – bahan material yang digunakan dalam pembangunan.

‎

‎Ia mengaku tidak tahu menahu saat ditanya soal asal usul bahan material rangka baja, plavon, spandek dan kusen. Menurutnya, itu semua kewenangan kepala sekolah. Dirinya tidak tahu berapa harga satuan materialnya dan belanja di toko mana tidak tahu.

‎

‎”Saya tidak diajak musyawarah ataupun bicara soal bahan material. Berapa harganya. Belanja di toko mana. Siapa pemborongnya. Saya hanya masukan pasir dan bata saja,”terangnya panjang lebar.

‎

‎”Saya hanya kerja buruh harian pak. Saya tidak tahu barang ini dari siapa dan dari toko mana. Saya tidak tahu. Saya hanya kerja,”kata sejumlah pekerja yang ditanya secara terpisah di lokasi proyek.

‎

‎BERSAMBUNG

‎(Gunawan)

‎