Tulang Bawang Barat bhayangkaranews24.id Proyek revitalisasi sekolah PAUD / KOBER / TK / SD dan SMP dari dana APBN tahun anggaran 2026 di Kabupaten Tulang Bawang Barat (TUBA BARAT) diduga menjadi lahan berkorupsi berjamaah, dari atas hingga ke bawah, Rabu 3/9/2026
Diketahui Kober Bhineka Tunggal Ika, Tiyuh Indraloka, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tuba Barat mendapatkan bantuan sebesar Rp 662.745.000,00. Padahal, status tanah adalah milik pribadi, bukan fasilitas umum milik aset desa atau dihibahkan ke masyarakat.
Secara umum dan menyeluruh di sekolah – sekolah, di temukan indikasi atau dugaan upaya tindak pidana korupsi, yaitu :
1. Diduga dana bantuan di potong 12 persen
2. Status lahan tanah milik pribadi atau dihibahkan formalitas dari miliknya sendiri ke keluarganya sendiri
3. Diduga tidak memiliki perizinan mendirikan bangunan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan dasar lainnya.
4. Bantuan tidak tepat sasaran. Sekolah menerima bantuan berturut turut. Ada sekolah yg tidak pernah mendapatkan bantuan
5. Material baja ringan / rangka baja di kondisikan oleh dinas
6. Bangunan menggunakan besi ukuran 8 mm dan 10mn
7. Galian kedalaman pondasi kurang 30 cm di dalam tanah
8. Panitia Pembangunan (P2SP) hanya formalitas. Tidak memegang dana, tidak melakukan pengawasan jenis pekerjaan dan kualitas pekerjaan.
9. Konsultan pengawas hanya formalitas, tidak melakukan pengawasan secara berkala atau bertahap. Tidak menjalankan tugas dan fungsi dengan baik.
10. Pemasangan atap baja ringan tidak kokoh dan rawan rusak terbang terbawa angin kencang.
11. Ada indikasi pembiaran, apakah pekerjaan dilaksanakan dengan baik atau tidak
Berdasarkan penelusuran di bawah atau di lapangan, ditemukan sejumlah dugaan penyimpangan, salah satunya adalah, status tanah milik pribadi atau keluarga. Bukan fasilitas umum. Tapi bisa mendapatkan bantuan dari dana APBN anggaran tahun 2026.
Salah satu kepala sekolah, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa dana bantuan revitalisasi di potong 12 persen. Kemudian pembangunan menggunakan besi ukuran 8 mm dan 10 mm. Selanjutnya rangka baja sudah ada yang mengkondisikan.
”Dana bantuan yang diterima itu tidak utuh. Ada potongan 12 persen. Bangunan pakai besi 8 dan 10. Baja ringan sudah langsung dari atas,”kata salah satu kepala sekolah yang meminta namanya di rahasiakan.
Menariknya, Kepala Sekolah Kober Indraloka 2, Kecamatan Way Kenanga, Made, saat di konfirmasi, membenarkan bangunan menggunakan besi ukuran 8 dan 10, kedalam pondasi juga sudah sesuai arahan dari pihak konsultan.
Konsultan Pengawas Revitalisasi sekolah di Tuba Barat, Asih, saat dikonfirmasi menerangkan bahwa pihaknya akan turun langsung ke lokasi bangunan pada Kamis Minggu yang lalu. Namun hingga saat ini belum ada konfirmasi lanjutan.
”Terimakasih atas informasinya, besok hari kamis saya akan turun ke lokasi. Saat ini saya sedang ada kesibukan mengurus orang tua, besok saya kabari kelanjutannya,”terangnya.
Hingga berita ini di terbitkan, belum ada tanggapan resmi atau konfirmasi ulang dari pihak sekolah maupun dari para pihak – pihak terkait. BERSAMBUNG.
Gunawan

