Media: BhayangkaraNews24.id | Kolaborasi: MataElang24.com
Jakarta — Bhayangkaranews24.id, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru berjalan sekitar 20 persen kini menuai sorotan tajam setelah muncul laporan lebih dari 12 ribu siswa mengalami keracunan massal di berbagai daerah. Tragedi ini menjadi pukulan keras terhadap kebijakan yang sejatinya bertujuan mulia — namun justru menimbulkan bahaya serius bagi keselamatan generasi bangsa.
Bendahara Umum Pusat Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Deni Setiawan, SH., MH., dengan tegas menyatakan bahwa program MBG mencerminkan wajah dan marwah Presiden di mata rakyat.
“Wajah MBG adalah wajah Presiden. Jika program ini berhasil, Presiden akan berwajah mulia di hati rakyat. Tapi bila menelan korban, maka wajah Presiden ikut tercoreng,”
— tegas Deni kepada BhayangkaraNews24.id
Refleksi Kritis: Antara Niat Baik dan Pelaksanaan yang Cacat
Menurut Deni, niat pemerintah dalam menggagas MBG patut diapresiasi sebagai langkah mulia untuk meningkatkan gizi anak bangsa. Namun, pelaksanaannya harus disertai pengawasan ketat, evaluasi berkala, dan kesiapan teknis yang matang agar tidak menimbulkan mudarat lebih besar.
Ia menegaskan pentingnya prinsip fiqih klasik sebagai pedoman kebijakan publik:
تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
“Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan pada kemaslahatan.”
“Program ini bukan soal sekadar memberi makan, tapi memastikan bahwa setiap kebijakan membawa manfaat, bukan bahaya,” ujarnya.
Evaluasi Total: Jangan Korbankan Jiwa Rakyat Demi Citra
Deni menyoroti bahwa ribuan kasus keracunan yang terjadi harus menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap rantai distribusi, kualitas bahan pangan, hingga pelibatan pihak ketiga yang menangani proyek MBG.
“Keselamatan rakyat adalah hal utama. Pemerintah wajib menjamin ḥifẓun-nafs — perlindungan jiwa manusia — sebagai bagian dari maqāṣid asy-syarī‘ah,”
katanya menegaskan.
Ia bahkan mengusulkan agar program MBG diubah menjadi bantuan gizi tunai langsung bagi siswa dari keluarga kurang mampu, guna menghindari praktik korupsi dan menekan risiko keracunan massal.
“Lebih maslahat dan transparan. Tidak semua siswa butuh makanan gratis — bantuan seharusnya tepat sasaran,” jelasnya.
Menjaga Marwah Kepemimpinan dan Amanah Keadilan
Dalam pandangan Deni, MBG bukan sekadar proyek sosial, tetapi simbol tanggung jawab moral Presiden terhadap rakyatnya.
“Memperbaiki MBG berarti menjaga kehormatan negara dan kemuliaan kepemimpinan. Jangan korbankan rakyat demi pencitraan sesaat,”
pungkasnya.
Ia menutup refleksinya dengan doa dan seruan moral:
“Semoga Allah memberi petunjuk, perlindungan, dan kemudahan bagi pemerintah dalam setiap langkah kebijakan demi kemaslahatan umat dan bangsa.”
Redaksi BhayangkaraNews24.id
Kolaborasi Liputan: MataElang24.com
(AM-212)



