Menjaga Mata Rantai Ilmu di Tengah Banjir Informasi
Muqaddimah
BANTEN — Bhayangkaranews24.id, Belum lama ini beredar dawuh Abuya KH. Muhtadi ad-Dimyathi rahimahullah yang menggetarkan hati para pencinta ilmu. Beliau berkata:
مَا مِنْ صَحِيفَةٍ مِنْ تِلْكَ الْكُتُبِ وَمِنْ تِلْكَ النُّسَخِ إِلَّا وَفِيهَا زِيَادَةٌ أَوْ نَقْصٌ مُبْطِلٌ
لِسِيَاقِ الْكَلَامِ وَفِي ذَالِكَ إِشْعَارٌ وَإِيمَاءٌ وَدَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ عُلَمَاءَ بَيْرُوتَ وَعُلَمَاءَ مِصْرَ
كُلَّهُمْ لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونُوا أِمَامِينَ فِي أَنْدُونِيسِيَا “مَا دُمْتُ حَيًّا”
(أَبُوْيَا مُهْتَدِي دِمْيَاطِي)
Tidak ada satu lembaran pun dari kitab-kitab tersebut dan dari naskah-naskah itu kecuali di dalamnya terdapat tambahan atau pengurangan yang membatalkan alur pembicaraan.Dan pada hal itu terdapat isyarat, sindiran dan petunjuk bahwa ulama Beirut dan ulama Mesir mereka semua tidak sah/ layak untuk menjadi imam-imam rujukan di Indonesia “selama aku masih hidup”
(Abuya Muhtadi Dimyathi)
Sekilas dawuh ini terdengar keras. Tapi kalau kita pahami dengan hati yang jernih, ini adalah bentuk kasih sayang seorang ulama besar kepada umat agar tidak tersesat dalam mengambil ilmu.
1. Konteks Dawuh Abuya: Kenapa Begitu Tegas?
Abuya hidup di zaman ketika kitab-kitab mulai dicetak massal. Banyak percetakan di Beirut dan Mesir yang menerbitkan kitab turats. Masalahnya, tidak semua percetakan itu dijaga oleh ulama yang amanah.
Imam As-Sakhawi dalam Fathul Mughits sudah mengingatkan:
وَكَمْ مِنْ كِتَابٍ صَحَّفَهُ النُّسَّاخُ فَأَفْسَدُوهُ
Betapa banyak kitab yang dirusak oleh para penyalin karena salah tulis.
Kalau di zaman salin tangan saja bisa rusak, apalagi di zaman cetak massal. Bisa ada tambahan, pengurangan, bahkan sisipan paham yang tidak sesuai dengan maksud musannif. Abuya melihat bahaya ini dengan mata bashirah. Beliau tidak sedang menolak ulama Timur Tengah. Beliau sedang menutup pintu fitnah agar umat tidak taqlid buta pada cetakan tanpa bimbingan guru.
Karena itulah beliau tegaskan: selama beliau hidup, rujukan utama umat Indonesia adalah ulama Nusantara yang sanadnya jelas, wara’nya teruji, dan penjagaan ilmunya kuat. Ini bentuk tanggung jawab beliau sebagai pewaris Nabi.
2. Relevansi di Zaman Sekarang: Dari Kitab Cetakan ke PDF dan Google
Kalau di zaman Abuya yang bahaya itu kitab cetakan, maka di zaman kita bahayanya 10x lipat. Kenapa?
Dulu: Yang rusak itu kertas. Butuh modal cetak.
Sekarang: Yang rusak bisa berupa PDF, artikel, potongan video, meme dakwah. Modalnya cuma kuota.
Coba lihat realita hari ini:
1. Kitab PDF di-scan, tapi halaman tahqiqnya hilang.
2. Terjemahan di-publish tanpa nama penerjemah, isinya disisipi paham menyimpang.
3. Potongan ceramah 30 detik dijadikan dalil, padahal penjelasannya 1 jam.
4. Orang belajar dari Google, lalu merasa lebih paham dari kiai yang 30 tahun ngaji.
Ini persis yang dikhawatirkan Abuya. Kalau kitab cetakan saja beliau waspada, apalagi copy-paste digital yang nggak ada editor, nggak ada pentahqiq, nggak ada sanad.
3. Solusi Abuya: Kembali ke Ulama Bersanad
Lalu apa solusi dari dawuh Abuya? Jelas sekali di akhir dawuh beliau:
Umat Islam harus tetap merujuk pada ulama yang mempunyai sanad keilmuan hingga bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ dan para ulama generasi awal, terutama ulama Nusantara yang dikenal sangat wara’ dan kehati-hatiannya dalam menjaga ilmu.
Ini kaidah emas dari zaman ke zaman. Imam Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan berkata sesukanya.
Di Nusantara, Allah jaga ilmu ini lewat ulama seperti Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil Bangkalan, Abuya Dimyathi, Mbah Maimoen Zubair. Mereka bukan cuma hafal kitab, tapi sanadnya bersambung, akhlaknya terjaga, dan wara’nya luar biasa. Membaca kitab lewat bimbingan mereka, insyaAllah selamat dari tahrif.
4. Aplikasi untuk Kita Hari Ini: 4 Langkah Selamat
Biar dawuh Abuya ini nggak cuma jadi pajangan, ini 4 langkah praktis buat kita:
1. Ngaji Talaqqi, Bukan Otodidak
Punya guru yang jelas. Duduk di majelis. Jangan cuma modal YouTube. Kata Imam Syafi’i:
مَنْ تَفَقَّهَ مِنْ بُطُونِ الْكُتُبِ ضَيَّعَ الأَحْكَامَ
Barangsiapa belajar fiqih dari perut kitab saja, dia akan menyia-nyiakan hukum.
2. Cek Sanad Kitab dan Guru
Kalau baca terjemahan, cari tahu siapa penerbit, siapa pentahqiq, siapa pensyarah. Kalau denger ceramah, cari tahu guru dari ustadz itu siapa. Ilmu itu nasab. Nasab harus jelas.
3. Utamakan Ulama Nusantara yang Tsiqah
Bukan berarti menolak ulama luar. Tapi dalam fiqih, akhlak, dan siyasah dakwah, ulama Nusantara lebih paham ‘urf dan masalah umat kita. Mereka yang jaga Islam di bumi ini tetap sejuk dan damai.
4. Jangan Mudah Share Sebelum Tabayyun
Dapat BC hadits, dapat meme dalil, tahan dulu. Tanya ke kiai. Takutnya itu potongan yang merusak maksud, persis seperti yang Abuya khawatirkan.
Penutup: Menjadi Murid yang Tahu Diri
Dawuh Abuya ini tamparan halus buat kita yang hidup di zaman serba instan. Kita sering merasa cukup dengan baca terjemah, lalu menyalahkan kiai. Merasa cukup dengan artikel, lalu mendebat ulama.
Padahal Abuya yang alim allamah, hafal ribuan kitab, sanadnya bersambung, masih begitu hati-hati. Lalu siapa kita yang baru baca 3 buku terjemah?
Tugas kita bukan jadi mufti dadakan. Tugas kita jadi murid yang tahu diri. Ngaji, ikut kiai, jaga sanad. Karena ilmu tanpa sanad itu seperti orang buta bawa obor. Bisa jadi obornya malah membakar dirinya sendiri.
Semoga Allah jaga kita dari ilmu yang tidak berkah. Lahu Al-Fatihah untuk Abuya Muhtadi ad-Dimyathi. Semoga kita dikumpulkan bersama beliau dan para ulama pewaris Nabi 🤲🤲🤲.
#PerinduAlamAkhirat #JagaSanad #UlamaNusantara #NgajiTalaqqi #AbuyaMuhtadi



