Muara Enim – bhayangkaraNews24.id – Kunjungan Panglima Baranusa Gusti Sajid Al-Akbar.AMd.Kep didampingi Ketua Srikandi Baranusa Ibu Haryati kepada Wakil Bupati Muara Enim Hj.Sumarni.M.Si bertujuan untuk membahas dan mengangkat kembali Sejarah Adat Budaya Lokal Kab. Muara Enim, Selasa (15-04-2025).
Pertemuan di ruang kerja Wakil Bupati Muara Enim tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh diskusi strategis, terutama terkait pengembangan dan pengangkatan kembali Sejarah Adat Budaya Lokal serta Asal-usul Tanjung Enim dan Muara Enim.
Dalam diskusi, Wakil Bupati Muara Enim langsung merespon saat Panglima Baranusa Menyampaikan maksud kunjungan tersebut , disampaikan oleh Wakil Bupati Muara Enim Hj.Sumarni.M.Si bahwa hal ini masuk diantara Program 100 hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Muara Enim.
“Mengangkat Sejarah Adat Budaya Lokal masuk dalam Program 100 hari kerja kita, hal ini pun disusun dan akan di realisasikan berdasarkan visi dan misi pembangunan daerah, yang mencakup berbagai sektor prioritas diantaranya tentang Sejarah Adat Budaya Lokal, pembangunan Rumah Adat dan lainnya,Jadi ini akan kita realisasikan segera “, kata Hj.Sumarni
Ditambahkan oleh Hj.Sumarni ” Untuk kita realisasikan tentang Sejarah Adat Budaya Lokal perlunya kontribusi seperti ini, dari berbagai elemen adat di Kabupaten Muara Enim ini guna memberikan masukan strategi bagi pemerintah daerah”.
Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen adat dan budaya seperti Panglima Baranusa ini dalam mengangkat kembali sejarah juga untuk pembangunan Rumah Adat, Tugu Sejarah dan lainnya menjadi salah satu cara yang efektif untuk mendukung merealisasikan nya.
Menanggapi respon yang sangat positip dari Wakil Bupati tersebut , Gusti Sajid Al-Akbar,AMd.Kep sebagai salah satu pewaris Pemerintahan Adat Marga Ayek Hening langsung menjelaskan dan menyerahkan buku Sejarah Naskah Kuno Prasasti Tanduk Kerbau 1347 M dari Kerajaan Majapahit (Marga Ayek Hening), yang ditulis oleh beliau, dan memperlihatkan langsung kepada Wakil Bupati Prasasti Tanduk Kerbau dan Kopiah Air Emas, Payung Merah Pinggiran Kuning peninggalan Puyang-Puyang terdahulu.
Ditempat terpisah Gusti Sajid Al-Akbar menuturkan ” Alangkah disayangkan jika Sejarah Adat Budaya Lokal serta benda-benda pusaka ini hanya disimpan dan tertutup tidak diperkenalkan kembali kepada generasi penerus dan masyarakat Luas karena ini semua merupakan warisan dan amanah dari leluhur “, Tutupnya.(Ero)



