Jakarta — bhayangkaranews24.id, Tokoh Nahdliyin, Cak OFi, melontarkan kritik keras terhadap sikap dan pernyataan Kiai Imam Jazuli, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, yang dinilai telah menyerang forum kiai sepuh yang berkumpul di Lirboyo. Cak OFi menilai sikap tersebut melampaui batas etika kesantrian dan mencederai penghormatan terhadap almamater serta para guru.
Dalam pernyataannya, Cak OFi secara terbuka mempertanyakan sikap keras Kiai Imam Jazuli yang dinilainya tidak pantas dilakukan oleh seorang alumni pesantren besar seperti Lirboyo.
“Kenapa bisa sampai segitu sengitnya menyerang Lirboyo? Apa karena merasa sudah menjadi bagian dari kekuasaan, lalu melupakan almamater sendiri?” ujar Cak OFi dengan nada tegas.
Ia menegaskan bahwa para kiai yang berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo adalah kiai sepuh, guru-guru para santri, yang selama ini dikenal jauh dari kepentingan duniawi. Menurutnya, menyerang forum tersebut sama saja dengan tidak menghormati guru sendiri.
“Minimal sebagai santri, hormatilah kiai-kiai sepuh itu. Mereka bukan orang yang hubbud dunia. Mereka berkumpul hanya dengan satu niat: ingin NU guyub, rukun, dan damai,” tegasnya.
Cak OFi juga mengkritik keras sikap merasa besar karena memiliki pesantren besar atau kekuatan finansial, lalu merasa bebas melontarkan serangan terhadap Lirboyo.
“Jangan mentang-mentang punya pesantren besar, bayar mahal, lalu seenaknya menyerang Lirboyo. Astaghfirullahal ‘adzim,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi pesantren, adab lebih tinggi dari ilmu, dan diam lebih mulia daripada berbicara tanpa etika, terlebih jika yang diserang adalah almamater sendiri.
“Kalau tidak setuju, minimal diam. Hormati Lirboyo. Di sana itu guru sampeyan, tempat sampeyan mondok,” lanjutnya.
Cak OFi menilai pernyataan dan sikap Kiai Imam Jazuli berpotensi melukai perasaan warga Nahdliyin dan memperkeruh suasana di tengah upaya para kiai sepuh menjaga persatuan Nahdlatul Ulama.
Menutup pernyataannya, Cak OFi mengingatkan bahwa NU tidak dibangun dengan arogansi dan serangan verbal, melainkan dengan adab, keikhlasan, dan ketaatan santri kepada kiai.
“NU ini besar karena adab dan barokah kiai. Kalau adab hilang, jangan harap persatuan bisa dijaga,” pungkasnya.
(AM-212)



