Jembrana bhayangkaranews24.id – Kerupuk gadung merupakan camilan yang terbuat dari umbi gadung yang banyak ditemukan di bantaran sungai, lahan perkebunan, dan di dalam hutan. Di Jembrana, Bali, banyak warga masyarakat memanfaatkan umbi-umbian ini sebagai bahan makanan camilan. Proses pembuatan kerupuk gadung memang cukup rumit dan memerlukan penanganan yang benar-benar sempurna. Salah satu warga yang pandai mengolah gadung adalah Nikayah (49), ibu rumah tangga dari Banjar Pangkung Tanah Kangin, Desa Melaya, Jembrana.
“Cuaca panas yang terjadi selama musim kemarau sangat menguntungkan bagi pembuatan kerupuk gadung,” katanya. Nikayah memanfaatkan cuaca panas ini untuk mencari dan mengolah umbi gadung hingga menjadi kerupuk. Dalam proses pengolahannya, dibantu oleh ibu mertua. Selain dikonsumsi oleh keluarga, kerupuk mentah yang siap digoreng ini juga dijual dengan harga Rp 50.000 per kilogram.
“Kendala utama dalam pembuatan kerupuk gadung adalah cuaca yang tidak mendukung. Jika cuaca tidak panas atau tidak ada sinar matahari yang cukup, proses pengeringan kerupuk bisa memakan waktu cukup lama, bahkan berhari-hari. Oleh karena itu, kerupuk gadung biasanya hanya dibuat pada saat musim panas yang mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkannya,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan cuaca dan kesulitan proses pengolahan, Nikayah berharap agar umbi gadung tidak punah dan dapat terus dibuat menjadi kerupuk gadung setiap tahunnya. “Meskipun sifat musimannya membuat kerupuk gadung hanya bisa dibuat satu tahun sekali, tetap saja kerupuk ini menjadi salah satu camilan tradisional yang identik dengan masyarakat Jembrana,” ungkapnya.
Ia pun tambahkan, seiring dengan perkembangan zaman dan makanan camilan modern, kerupuk gadung juga harus terus bersaing dan dikenal agar tetap lestari. Dengan pengembangan inovasi dan kelembagaan pasar yang tepat, diharapkan kerupuk gadung bisa terus bertahan dan memperkaya warisan kuliner Indonesia.
(SA/e-200)



