Tasikmalaya,[ Bhayangkara news24 id]>Senin, 29 Desember 2025 — Dalam rangkaian Deklarasi Forum Kajian dan Pembangunan Tasikmalaya (FORKAP) yang digelar di Kafe Gumilang, Tasikmalaya, salah satu rekomendasi strategis yang disepakati adalah penginisiasian pengolahan limbah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuju konsep Zero Waste.
Isu ini dinilai penting mengingat implementasi program MBG di Kabupaten Tasikmalaya saat ini telah melibatkan lebih dari 200 dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap dapur diperkirakan menghasilkan sekitar 100 kilogram limbah dapur per hari, baik berupa sisa bahan makanan, sayuran, nasi, maupun limbah organik lainnya.
Dengan jumlah tersebut, potensi limbah dapur MBG di Kabupaten Tasikmalaya dapat mencapai lebih dari 20 ton limbah organik per hari. Tanpa sistem pengelolaan yang terstruktur, limbah ini berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran, bau, hingga peningkatan volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).
Melihat kondisi tersebut, FORKAP mendorong perubahan paradigma pengelolaan limbah, dari yang selama ini dianggap sebagai beban, menjadi sumber daya dan peluang ekonomi baru.
Ketua Umum FORKAP Tasikmalaya, Fathiyakan, menyampaikan bahwa pengelolaan limbah dapur MBG harus diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan berkelanjutan daerah.
“Jika satu dapur MBG menghasilkan sekitar 100 kilogram limbah per hari, maka ini bukan persoalan kecil. Namun di sisi lain, ini juga peluang besar. Limbah dapur bisa diolah menjadi pakan ternak, kompos, pupuk organik, bahkan produk turunan lain yang bernilai ekonomi. Inilah yang kami dorong melalui inisiatif Zero Waste,” ujar Fathiyakan.
Ia menegaskan bahwa FORKAP tidak ingin berhenti pada wacana lingkungan semata, tetapi mendorong model pengelolaan yang aplikatif, berbasis masyarakat, dan melibatkan pemuda.
“Kami melihat pengelolaan limbah dapur MBG sebagai pintu masuk pemberdayaan ekonomi lokal. Pemuda, kelompok tani, peternak, hingga UMKM bisa dilibatkan. Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi soal kemandirian ekonomi dan keberlanjutan pembangunan daerah,” tambahnya.
FORKAP berencana menginisiasi kajian teknis dan model percontohan (pilot project) pengelolaan limbah dapur MBG, bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pengelola dapur MBG, pemerintah desa, kelompok pemuda, serta stakeholder terkait. Model pengelolaan yang akan dikembangkan mencakup pemilahan limbah, pengolahan menjadi pakan ternak fermentasi, kompos organik, dan produk ramah lingkungan lainnya.
Menurut FORKAP, langkah ini sejalan dengan semangat efisiensi anggaran, penguatan ekonomi lokal, serta komitmen terhadap pembangunan berwawasan lingkungan.
“Kami mendukung program MBG sebagai kebijakan strategis pemerintah. Namun agar dampaknya benar-benar optimal, harus ada inovasi di tingkat pelaksanaan. Pengelolaan limbah adalah salah satu celah penting yang harus diisi dengan pendekatan kolaboratif,” tegas Fathiyakan.
Melalui rekomendasi ini, FORKAP mengajak seluruh pemangku kepentingan di Tasikmalaya untuk melihat pengelolaan limbah dapur MBG sebagai agenda bersama, bukan hanya urusan teknis, tetapi bagian dari upaya membangun Tasikmalaya yang lebih berkelanjutan, produktif, dan berdaya saing.
BN 24 jabar



