Bantenbhayangkaranews24.id, Hikmah Peringatan Nuzulul Qur`an Dan Syi’ar Ramadhan Tahun 1445 H/2024 M

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

Secara rutinitas (tiap bulan suci Ramadhan) di Majlis Dzikir Hadadan Dan Do’a Munajat, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, dilaksanakan kegiatan “Peringatan Nujulul Qur’an” dan sekaligus juga dibarengi dengan acara “Penutupan Pesantren Ramadhan” serta pelepasan para santriwan dan santriwati yang telah tahasus mengikuti kegiatan Pesantren Ramadhan tersebut. Sedangkan materi pembinaan yang disampaikan diacara Pesantren Ramadhan itu difokuskan atau ditahasuskan pada sisi pendalaman “Ulumul Qur’an” seperti fokus untuk mendalami “Ilmu Naghomat” atau “Ilmu Seni Baca Al-qur’an” (Tilawatil Qur’an) berserta berbagai Ulumul Qur’an lainnya seperti pendalaman ilmu tajwid, ilmu makhorijul huruf, ilmu qiro’at sab’ah dan lain sebagainya. Sedangkan dalam konteks pendalam materi ilmu tilawatil qur’an di kegiatan pesantren Ramadhan tahun ini, penulis (sebagai pemateri di kegiatan pesantren Ramadah tahun ini), mencoba untuk mengkomfilasi tujuh lagu pokok di dalam ilmu seni baca al-qur’an, yakni menyampaikan materi dan sekaligus memprakten Lagu Baiyati, Lagu Shoba, Lagu Hizaj, Lagu Rost, Lagu Nahawand, Lagu Jiharkah dan Lagu Sikah. Sedangkan segmentatif (para peserta pembinaan pesantren Ramadhan untuk tahun ini), yaitu dikhususkan untuk para generasi milenial. Sedangkan motipasi utama dari kegiatan pesantren Ramadhan tahun ini, yaitu agar generasi masa kini (generasi milenial) mereka cinta dan mau mempelajari “Ulumul Qur’an”. Lebih dari itu, fisibilitas lainnya dari kegitan Pesantren Ramadhan ini, agar generasi milenial saat ini, kelak mereka menjadi generasi yang punya karakter dan sekaligus menjadi generasi yang literat dan sekaligus memahami dimensi ilmu tilawatil qur’an, yang harapan maksimalnya agar mereka menjadi Qori’ dan Qori’al yang profesional dan mau mengamalkan Al-qur’an.

II. Hikmah Nujulul Qur’an

Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah Ayat 185, yang artinya: “Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk serta menjelaskan perbedaan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah)” (QS. Al-Baqarah: 185). Ayat tersebut menjelaskan bahwa kehadiran Al-Qur’an pertama kali pada bulan suci Ramadhan, sehingga peristiwa turunnya Al-Qur’an, memang erat hubungannya dengan bulan suci Ramadhan. Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah peristiwa diturunkannya wahyu Allah SWT (AL-Qur’an) kepada Nabi Muhammad Saw, yakni melalui perantara Malaikat Jibril as, secara berangsur-angsur. Yakni, ketika Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun dan sedang berkhalwat di Gua Hira. Sementara hingga saat ini, yakni sesuai peta Kota Makkah, bahwa keberadaan Gua Hira itu terletak di Gunung Jabal Nur, yaitu sekitar 6 km di sebelah Utara dari Kota Makkah. Sementara ukuran Gua Hira tidak luas dan tidak lebar, yakni yang berukuran kurang lebih panjang 2 m, lebar 1,3 m, serta tinggi 1,5 m. Di Gua Hira itulah Nabi Muhammad Saw menerima wahyu yang pertama, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5. Sekalipun masih ada berbagai perbedaan pendapat diantara kalangan para ulama, yakni terkait hari pertama turunnya Al-Qur’an. Namun menurut jumhur ulama ahli tafsir maupun para ulama ahli nujulul qur’an, bahwa pada tanggal 17 Ramadhan itulah Al-qur’an pertama kali diturunkan. Bahkan, hingga saat ini sudah menjadi agenda kenegaraan bangsa kita, yakni setiap tanggal 17 Ramadhan, selalu diadakan/diperingati peristiwa “Nuzulul Qur’an”, yakni melalui acara seremonial kenegaraan.

Dalam konteks historis diturunkannya Al-qur’an, bahwa suatu malam, yakni di saat Nabi Muhammad Saw sedang tertidur di dalam Gua Hira, saat itu datang-lah Malaikat Jibril as, dan sekaligus membawa wahyu Allah, seraya berkata kepada Nabi Muhammad : “Iqra (bacalah)”. Dengan terkejut Nabi Muhammad menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Malaikat Jibril pun kemudian mendekap hingga beliau sesak kemudian melepaskan Nabi Muhammad sambil berkata lagi, “Bacalah.” Mendengar hal itu, Nabi Muhammad menjawab, “Apa yang akan saya baca?” Malaikat Jibril kemudian mendekap dan berkata, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Yakni, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah…dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya…” (Q.S. Al-Alaq:1-5). Lebih dari itu, bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an itu sendiri merupakan tanda diutusnya Nabi Muhammad Saw, yakni sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT. Di samping itu, bahwa kitab suci Al-Qur’an juga menjadi mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad Saw.

Sementara sejarah Nuzulul Qur’an yang diperingati pada setiap malam 17 Ramadhan, hal itu merujuk pada penjelasan Al-qur’an itu sendiri, yakni yang terdapat pada Surah Al-Anfal Ayat 41: “Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan.” (QS. Al Anfal [8]:41). Ayat tersebut menjelaskan tentang peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi pada Hari Furqan, yaitu hari kemenangan umat Islam atas Perang Badar. Perang tersebut terjadi pada hari Jumat, tanggal 17 Ramadhan. Namun ada juga yang tidak sependapat dengan apa yang telah dikemukakan diatas, sehingga peristiwa Nuzulul Qur’an menurut mereka adalah jatuh pada tanggal 18 atau 19 Ramadhan. Namun semua ulama atau menurut jumhur para ulama mereka sepakat, bahwa Al-Qur’an pertama kali turun di Gua Hira pada bulan suci Ramadhan.

Sedangkan proses turunnya Al Qur’an, yaitu dengan cara berangsur-angsur. Sementara turunnya Al-qur’an dengan cara berangsur-angsur itu, hal itu juga sebagai jawaban atas kebutuhan hukum (istimbat hukum), dan sekaligus juga untuk memudahkan dalam konteks hafalan (menghafal) serta memahami isi kandungan Al Qur’an itu sendiri. Kitab suci Al-Qur’an turun kepada Rasulullah Saw secara perlahan atau secara berangsur-angsur itu adalah sebagai pelajaran bagi umat Islam agar selalu sabar dan berhati-hati dalam setiap menghadapi berbagai peristiwa dan cobaan di kala itu. Sementara dalam konteks sekarang ini, bagi kita umat Islam, seyogyanya peristiwa Nujulul Qur’an ini untuk terus digemakan atau disemarakan lagi, dan sekaligus agar kita umat Islam dalam konteks kekinian, untuk lebih pandai lagi mengambil i’tibar dan sekaligus terus menggali afinitasi (hikmah) atas turunnya Al-Quran. Dengan memperingatan Nuzul Qur’an, umat Islam diharapkan menjadi semakin mencintai Al-Quran, rajin membaca dan mendalami maknanya, serta menghayati dan mengamalkannya dalam konteks kehidupan sehari hari. Bahkan, proses turunnya Al-Qur’an ke bumi ini secara bertahap atau secara berangsur-angsur, hal itu juga sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya. Karena, turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur itu, memang telah menunjukkan keagungan dan kemu’jizatan Al-Quran itu sendiri seperti firman Allah SWT yang artinya “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan cara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. Al Isra: 17/106). Sedangkan hikmah, keutamaan, kemulian dan keistimewaan peringatan Nuzul Qur’an adalah sebagai berikut :

(1). Agar umat Islam memahami sejarah dan peristiwa turunnya Al-Qur’an (2). Untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT (3). Sebagai edukasi untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, lebih mencintai, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an (4). Untuk meningkatkan minat dan motivasi membaca dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an (5). Sebagai syi’ar Islam dan mendakwakan Al-Qur’an (6). Peringatan Nuzulul Qur’an adalah sarana yang efektif untuk menjaga kemurnian dan kesucian Al-Qur’an.

(AM-212)