bhayangkaranews24.id (Purwakarta) Demonstrasi yang sekarang terjadi adalah pengulangan kemarahan rakyat terhadap penguasa. Suara rakyat yang terabaikan dan kepongahan penguasa menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara dari dulu hingga kini. Kita tidak berusaha untuk mengubah kemarahan sesaat menjadi kesadaran panjang, Setelah kita marah kita merasa puas dengan apa yang kita marahin tapi ujung-ujungnya tidak menngubah apapun, buktinya ini terus terjadi mulai dari demontrasi di era ORLA, MALARI, runtuhnya ORBA hingga hari ini malah mungkin keadaan kita semakin hari semakin buruk.

Kemarahan rakyat telah berdampak pada kerusakan sarana dan prasarana yang kemudian perbaikan dilakukan dengan menggunakan uang rakyat yang dipungut lewat pajak. Kita hanya membenci pelaku korupsi, kejahatan dan keburukan lainnya bukan pada korupsi dan kejahatan buktinya setelah kita berkuasa kita melakukan hal yang sama. Kita tidak suka orang berbuat korup, jahat, biadab dan anti kemanusiaan tetapi ketika kita menduduki jabatan posisi seperti mereka kita melakukan hal yang sama.

Keburukan, kebiadaban, kerakusan, ketidakadilan adalah musuh kita bersama yang harus kita benci baik berada di luar diri kita maupun yang ada dalam diri kita. Ini permasalahan yang kita hadapi, kemarahan sesaat sejatinya kita ubah menjadi kesadaran kolektif kita menuju lebih baik. Mengganti rezim dan orang-orang dalam struktur pemerintahan yang sedang berkuasa oleh kita atau oleh siapapun tidak akan mengubah apapun jika kita tidak memiliki kesadaran kolektif untuk memperbaiki, menemukan akar masalah yang sedang kita hadapi. Good will dan tekad untuk menjadi lebih baik bukan hanya jargon dan tipuan agar kita mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Belajar dari sejarah kita harus dapat mengubah akar masalah dari penyakit yang sedang kita derita.

Apa yang dibutuhkan bangsa ini? Bukan apa yang diinginnya bangsa ini? Kita harus membangun bangsa sesuai dengan apa yang kita punya. Kita harus mengetahui apa kekuatan dan kelemahan bangsa ini? Dari sini kita harus mulai membangun. Mengetahui kesejatian diri sebagai sebuah bangsa adalah sangat penting. Founding father kita telah menetapkan identitas hidup berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila. Yang menjiwai Pancasila dari seluruh sila menurut hemat saya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan Gotong Royong.

Tapi anehnya Tuhan belum menjiwai pola perilaku kita yang mana seharusnya kita mengamalkan asas kasih dan sayang (Bismillahirohmanirrohiim) buktinya begitu maraknya kebencian dan kerakusan untuk menguasai harta dan kekuasaan. Seharusnya kita memiliki silih asah, silih asih dan silih asih (Gotong Royong) tapi seringnya kita saling memukul daripada merangkul, yang seharusnya orang lain bagian dari diri kita atau kita merupakan bagian dari orang lain tapi faktanya para penguasa sering menindas, angkuh, sombong, dan menekan daripada membagi kuasa dengan rakyat. Bukankah seharusnya baik penguasa, aparat, maupun birokrat menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari rakyat dan rakyat juga harus menyadari bahwa para pemimpin lahir dari rakyat. Kita adalah satu bukan yang lain inilah makna tauhid yang harus kita anut. Kita berasal dari Allah, berjalan di jalan Allah dan kembali kepada Allah, siapapun kita.

Coba kita tengok bagaimana perkembangan negara tetangga kita Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam yang mengalami perubahan yang dirasakan oleh rakyatnya. Sementara kita jalan di tempat dan tak beranjak. Kita terombang ambing di tengah lautan seolah tak bertepi kita telah kehilangan arah. Kita orang dari Timur tapi kita silau melihat Barat kita selalu ingin meniru mereka. Padahal mereka punya budaya sendiri, punya ideologi sendiri.

Mereka (Barat) telah memilih kepercayaan/keyakinan dan berperilaku secara konsisten pada pilihan ideologi materialis dan individualis hingga mereka secara giat dan bersungguh-sungguh meraih kejayaan mereka. Tapi kita mengaku bertuhan dan bergotong royong sebagai identitas kita namun yang kita lakukan seolah tak bertuhan. Kebanyakan kita kecewa jika kebaikan yang kita lakukan tak dibalas oleh orang lain hingga berhenti berbuat kebaikan, kita lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi kebaikan.

Kita meyakini bahwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan tapi faktanya kita dipimpin oleh pemimpin yang dipilih oleh suara terbanyak. Padahal kita tahu bahwa suara terbanyak tidak mewakili kebenaran dan kebaikan (hikmah dan kebijaksanaan). Siapa yang bisa mengendalikan dan mempermainkan suara dan dukungan rakyat dialah yang berkuasa. Lantas mau kapan kita berubah? Belajar sejarah tak berguna lagi? Kemarahan dan kemarahan terus terjadi padahal yang kita butuhkan adalah kesadaran berketuhanan dan gotong royong!

Jadi saya menduga pola dan perilaku ini sengaja diciptakan dan dikondisikan sehingga keadaan dan kondisi seperti ini seolah biasa dan tak bisa diubah. Permainan yang dilakukan oleh yang anti Indonesia (musuh kita) adalah mempermainkan emosi dan kemarahan rakyat, bagi mereka yang penting Indonesia jangan maju!

(Dr. Srie Muldrianto, MPd. Ketua PCM Muhammadiyah Purwakarta)