TULANG BAWANG bhayangkaranews24.id Proyek revitalisasi sekolah PAUD / KOBER / TK / SD dan SMP dari dana APBN tahun anggaran 2026 di Kabupaten Tulang Bawang (TUBA) diduga menjadi lahan berkorupsi berjamaah, dari atas hingga ke bawah.
Diketahui TK Bakti Yuda yang beralamat di RK 6 Kampung Tri Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, mendapatkan bantuan sebesar Rp 437.067.000. Padahal, status tanah adalah milik pribadi, bukan fasilitas umum milik aset desa atau dihibahkan ke masyarakat. Mengapa bisa mendapatkan bantuan.
Secara umum dan menyeluruh di sekolah – sekolah, di temukan indikasi atau dugaan upaya tindak pidana korupsi, yaitu :
1. Diduga dana bantuan di potong 12 persen
2. Status lahan tanah milik pribadi atau dihibahkan formalitas dari miliknya sendiri ke keluarganya sendiri
3. Diduga tidak memiliki perizinan mendirikan bangunan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan dasar lainnya.
4. Bantuan tidak tepat sasaran. Sekolah menerima bantuan berturut turut. Ada sekolah yg tidak pernah mendapatkan bantuan
5. Material baja ringan / rangka baja di kondisikan oleh dinas
6. Bangunan menggunakan besi ukuran 8 mm dan 10mn
7. Galian kedalaman pondasi kurang 30 cm di dalam tanah
8. Panitia Pembangunan (P2SP) hanya formalitas. Tidak memegang dana, tidak melakukan pengawasan jenis pekerjaan dan kualitas pekerjaan.
9. Konsultan pengawas hanya formalitas, tidak melakukan pengawasan secara berkala atau bertahap. Tidak menjalankan tugas dan fungsi dengan baik.
10. Pemasangan atap baja ringan tidak kokoh dan rawan rusak terbang terbawa angin kencang.
11. Ada indikasi pembiaran, apakah pekerjaan dilaksanakan dengan baik atau tidak
Berdasarkan penelusuran di bawah atau di lapangan, ditemukan sejumlah dugaan penyimpangan, salah satunya adalah, status tanah milik pribadi atau keluarga. Bukan tanah fasilitas umum. Tapi bisa mendapatkan bantuan dari dana APBN tahun anggaran 2026.
Salah satu kepala sekolah, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa dana bantuan revitalisasi di potong 12 persen. Kemudian pembangunan menggunakan besi ukuran 8 mm dan 10 mm. Selanjutnya rangka baja sudah ada yang mengkondisikan.
”Dana bantuan yang diterima itu tidak utuh. Ada potongan 12 persen. Bangunan pakai besi 8 dan 10. Baja ringan sudah langsung dari atas,”kata salah satu kepala sekolah yang meminta namanya di rahasiakan, belum lama ini.
Sementara itu, Kepala TK Bakti Yuda Tritunggal Jaya, Surosowati, belum bisa dikonfirmasi, upaya konfirmasi selalu gagal, karena yang bersangkutan tidak berada dirumah dan tidak ketemu pada saat wartawan mengunjungi lokasi bangunan proyek.
Terhitung sudah lima kali upaya konfirmasi belum mendapatkan hasil. Pada saat di kunjungi di lokasi bangunan dan dikediamannya tidak ketemu. Tim redaksi terpaksa harus melakukan upaya konfirmasi pada malam hari dan bertemu dengan suami kepala TK.
”Ibu kepala sekolah, itu benar istri saya, dia tidak ada di rumah, sedan ada acara dari jam lima sore tadi belum pulan,”terang suami kepala TK Bakti Yuda, kemarin.
Sementara itu, para aparatur Kampung Tritunggal Jaya juga mengaku tidak tahu soal status tanah tersebut. Menurutnya hingga saat ini tidak ada tembusan ataupun kordinasi, meskipun titik lokasi dana bantuan pemerintah berada di wilayah Pemerintahan Kampung Tritunggal Jaya.
”Kami tidak tahu bang di mana lokasi bangunan proyek bantuan dari pemerintah tersebut. Tidak ada komunikasi ataupun hanya sebatas basa basi menerima bantuan,”terang salah satu aparat kampung setempat, kemarin.
Hingga berita ini di terbitkan, belum ada tanggapan resmi atau konfirmasi ulang dari pihak sekolah maupun dari para pihak – pihak terkait. BERSAMBUNG
Gunawan



