@Alwiyan Rakjat Biasa.

 

Citangkil Cilegonbhayangkaranews24.id, “Ketika suatu paradigma sudah tidak dapat digunakan lagi untuk memecahkan persoalan penting dan strategis atau justru mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus segera diciptakan”. Senin (1/12/25)

 

Konflik dalam organisasi, termasuk konflik yang sedang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama, itu hal biasa dan dinamis, bahkan bisa menjadi momentum kebangkitan peningkatan produktifitas jika konflik tersebut terkelola dengan baik dan positif, dalam arti tidak mengarah kepada perpecahan namun membangun kembali paradigma dan komitmen menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai alat perjuangan Islam.

 

Langgeng dan tumbuh besarnya suatu organisasi, termasuk Nahdlatul Ulama hingga kehadirannya terasa manfaatnya bagi kemajuan dan keberdayaan ummat, bangsa dan negara, menurut pandangan penulis adalah ketika 5 aspek fundamental dibawah ini benar benar menjadi perhatian dan spirit serta diimplementasikan oleh semua elemen Nahdliyin, diantaranya :

 

1. Niat luhur dan mulia

 

Niat mulia dan komitmen seluruh Nahdliyin di berbagai level dalam memperjuangkan perwujudan nilai-nilai luhur dalam berjam’iyah Nahdltul Ulama. Komitmen menjadikan Nahdlatul Ulama hanyalah sebatas alat perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai luhur Islam dengan sikap adil, beradab, modern dan moderat sebagaimana ajaran dan keyakinan Ahlussunnah waljama’ah linahdliyin.

 

Perlu diingat kembali, Nabi diutus kepada manusia bukan untuk membentuk kebudayaan Arab atau kebudayaan manapun (makanya jangan kearab-araban), tapi diutus untuk membentuk kebudayaan luhur manusia berlandaskan tauhid yang didalamnya meliputi aqidah, ibadah, tarbiyah, ta’lim, tadris, muamalah hingga jihad fi sabilillah.

 

Kini Nabi telah tiada, semangat tarbiyah inilah yang harus diteruskan oleh kaum intelektual untuk melanjutkan pembangunan kebudayaan luhur di muka bumi.

 

Tak salah jika tanggung jawab menghadirkan kebudayaan luhur di tengah-tengah ummat manusia adalah tanggung jawab dunia pendidikan termasuk di dalamnya adalah Nahdlatul Ulama dengan basis pendidikan Islam (pesantren). Jika kemudian lembaga pendidikan banyak lahir, tapi kebudayaan luhur tak kunjung hadir, positif dunia pendidikan sedang mengalami “disorientasi”, itu artinya ada niat mulia yang tereduksi oleh kepentingan lain.

 

2. Supremasi hukum

 

Hukum sebagai rekayasa sosial perlu supremasi hukum sebagai upaya menegakkan dan menempatkan hukum atau nilai nilai serta peraturan organisasi pada posisi tertinggi. Hukum benar benar dapat berfungsi melindungi kesetaraan hak dan kewajiban seluruh Nahdliyin tanpa adanya intervensi oleh dan dari pihak manapun, singkatnya, hukum sebagai panglima dalam berorganisasi Nahdlatul Ulama.

 

Seperti halnya dalam bernegara, supremasi hukum adalah prinsip di mana semua tindakan negara, lembaga, dan individu harus didasarkan pada hukum yang adil, diterapkan secara konsisten, dan tidak boleh ada yang berada di atas hukum, termasuk penguasa. Prinsip ini bertujuan untuk melindungi hak-hak warga negara, mencegah kesewenang-wenangan, dan memastikan kesetaraan di hadapan hukum bagi semua orang tanpa diskriminasi

 

3. Kepemimpinan

 

Soliditas kepemimpinan dalam berorganisaai merupakan syarat yang tidak bisa ditawar-tawar dalam keadaan apapun. Kepemimpinan mesti dimaknai dan diwujudkan oleh semua Nahdliyin sebagai media membuat keputusan bersama dan aktifitas kerjasama antara yang dipimpin dengan yang memimpin dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama-sama serta mendistribusikan hasil-hasilnya secara proporsional.

 

4. Produktivitas

 

Tanpa produktifitas yang nyata-nyata dapat dirasakan manfaatnya oleh ummat, bangsa dan negara maka suatu organisasi, termasuk Nahdlatul Ulama, akan redup dan mati. Semua aspek Nahdlatul Ulama diharapkan produktif secara optimal hingga tumbuh kemanfaatan dan kemaslahatan, ketahanan dan pertahanan di semua bidang.

 

5. Kaderisasi

 

Kaderisasi memiliki tujuan mempersiapkan stok sumber daya manusia yang berkualitas dalam rangka regenerasi melalui suatu pendidikan unggul yang pada gilirannya generasi tersebut akan siap meneruskan estafeta kepemimpinan yang akan melanjutkan dan melanggengkan nilai nilai dan cita cita yang telah ditentukan dan diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama untuk jangka panjang.

 

Penutup, bahwa organisasi atau bahkan bangsa yang sehat atau yang sakit dapat diketahui ketika suatu organisasi atau bangsa tersebut mampu memenangkan persaingan dan memberi manfaat, karena sesungguhnya sejarah peperangan bangsa-bangsa di dunia ini hanyalah kisah tentang bangsa yang sehat mengalahkan bangsa yang sakit lalu memperalatnya. Sehat itu ketika sub-sub organ sebagai bagian yang sistematis menyusun organ yang saling memiliki keterkaitan satu dengan yg lainnya berfungsi sebagimana kodratnya.

 

Wallahu a’lam.

 

Redaksi Bhayangkaranews24.id

(AM-212)