(bhayangkaranews24.id), Jakarta, Ada masa ketika nama Indonesia membuat lawan-lawan dunia bridge berhitung ulang.

Pada era 1970 hingga 1990-an, tim bridge Indonesia dikenal sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Dalam berbagai kejuaraan Asia dan internasional, Indonesia bukan sekadar peserta, tetapi pesaing utama. Bahkan Indonesia pernah menembus peringkat lima dunia, sebuah pencapaian yang menempatkan Indonesia dalam kelompok elite bridge internasional.

Di Asia Tenggara, dominasi Indonesia hampir tidak terbantahkan.
Di kawasan Asia Pasifik, Indonesia bersaing ketat dengan negara-negara kuat seperti Chinese Taipei, Jepang, dan Australia.

Nama-nama pemain Indonesia dikenal dan dihormati. Namun jika kita jujur melihat keadaan hari ini, pertanyaan besar muncul: Mengapa kejayaan itu kini terasa semakin jauh?

Prestasi bridge Indonesia di tingkat internasional tidak lagi sekuat dahulu. Kita masih memiliki pemain berbakat. Kemampuan individu tidak hilang begitu saja.

Yang hilang justru sistem yang dahulu melahirkan para pemain hebat itu. Pada masa lalu, pembinaan bridge memiliki ekosistem yang jelas. Sekolah, kampus, dan berbagai kompetisi nasional menjadi jalur alami munculnya pemain-pemain baru.

Banyak pemain nasional lahir dari kompetisi pelajar dan mahasiswa.
Mereka belajar, bertanding, berkembang, lalu naik ke tingkat nasional dan internasional.

Hari ini, jalur itu hampir terputus.

Bridge tidak lagi hadir dalam beberapa ajang olahraga pelajar penting seperti O2SN, POPNAS, maupun POMNAS. Tanpa kompetisi di tingkat pendidikan, regenerasi menjadi sangat sulit.

Olahraga apa pun yang kehilangan generasi mudanya pada akhirnya akan mengalami kemunduran. Bridge Indonesia kini mulai merasakan gejala itu.

Ironisnya, di banyak negara maju justru terjadi hal sebaliknya. Bridge diperkenalkan di sekolah sebagai alat pendidikan untuk melatih logika, konsentrasi, dan kerja sama tim.

Bridge bukan sekadar permainan kartu. Bridge adalah olahraga kecerdasan.

Seorang pemain bridge harus mampu menganalisis informasi yang tidak lengkap, membaca pola permainan lawan, memperkirakan distribusi kartu, dan mengambil keputusan strategis dalam waktu terbatas.

Kemampuan seperti ini justru sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan modern.

Namun di Indonesia, bridge masih sering terjebak dalam stigma lama: permainan kartu yang dianggap dekat dengan perjudian.

Stigma inilah yang selama bertahun-tahun menghambat perkembangan bridge di masyarakat.

Padahal secara internasional bridge diakui sebagai mind sport, sejajar dengan catur dan berbagai permainan strategi lainnya.

Masalah lain adalah cara kita mengemas kompetisi bridge yang masih terlalu konvensional.

Dunia olahraga telah berubah. Teknologi digital membuka cara baru untuk bermain, menonton, dan mempromosikan olahraga.

Banyak cabang olahraga berhasil memperluas popularitasnya melalui media digital dan platform online. Bridge sebenarnya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak olahraga lain.

Bridge dapat dimainkan secara tatap muka maupun online dengan kualitas kompetisi yang tetap tinggi. Bahkan turnamen online memungkinkan pemain dari berbagai negara bertanding tanpa harus berada di tempat yang sama.

Ini adalah peluang besar. Namun peluang itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Jika ingin bangkit, bridge Indonesia membutuhkan perubahan cara berpikir.

Pertama, regenerasi pemain muda harus menjadi agenda utama. Bridge harus kembali masuk ke sekolah dan universitas. Tanpa generasi baru, masa depan bridge Indonesia akan semakin mengecil.

Kedua, citra bridge harus diperbaiki. Masyarakat perlu memahami bahwa bridge adalah olahraga intelektual yang melatih kemampuan berpikir, bukan sekadar permainan kartu biasa.

Ketiga, kompetisi bridge harus lebih modern, terbuka, dan menarik. Format turnamen hybrid yang menggabungkan pertandingan online dan tatap muka bisa menjadi jalan untuk memperluas partisipasi sekaligus meningkatkan kualitas kompetisi.

Indonesia memiliki sejarah besar dalam dunia bridge. Kita pernah memiliki generasi pemain yang disegani dunia. Namun sejarah tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilanjutkan. Kejayaan bridge Indonesia tidak akan kembali hanya dengan mengenang masa lalu.

Ia hanya bisa kembali jika kita berani membangun ulang sistem pembinaan, membuka ruang bagi generasi muda, dan menyesuaikan diri dengan zaman.

Indonesia pernah ditakuti dalam dunia bridge. Tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa kembali ke sana.

Masalahnya hanya satu:

Apakah kita masih memiliki kemauan untuk memperjuangkannya?
(BERT TOAR POLII/ Tokoh Bridge Indonesia)