Banten – bhayangkaranews24.id, Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Fisik Dan Mental Serta Menjaga Kognitif Dan Kesehatan Otak

 

Oleh : Adung Abdul Haris

 

I. Pendahuluan

 

Hingga saat ini (Rabu, 27 Maret 2924), kita umat Islam telah menjalankan ibadah puasa di hari yang ke 16. Dan nanti malam insa allah kita sama-sama akan melaksanakan ibadah shalat tarawih di malam yang ke 17. Sementara manfaat puasa menurut para ahli dibidang medis dan kesehatan jiwa pada faktanya sangat komplikitit. Ibadah puasa menurut para pakar atau para ahli, memang memiliki beragam manfaat baik bagi kesehatan fisik maupun mental. Sementara menurut Psikolog dari UGM, yaitu Dr. Bagus Riyono, M.A menjelaskan, bahwa puasa bermanfaat untuk meningkatkan kontrol diri. “Dengan berpuasa kita dilatih “delay gratification” atau menunda pemuasan dari makan, emosi dan lain sebagainya,” tuturnya. Hal itu disampaikan oleh sang pakar psikologi dari UGM itu, yakni ketika bincang-bincang dengan para awak media di Kantor Pusat UGM Yogyakarta (Hari Senin, 20/03/2024). Lebih dari itu menurut Dosen Fakultas Psikologi UGM itu mencontohkan, bahwa menunda pemuasan terkait emosi. Dengan adanya jeda, tidak impulsif maka akan terjadi penurunan ketegangan atau stres dalam diri. Disamping itu dikatakannya, bahwa saat menjalankan ibadah puasa, maka jiwa kita terus dilatih untuk disiplin dan tekun sehingga hati kita merasakan tenang. Selain itu puasa juga bisa melatih diri untuk merespons semua hal dengan lebih tengan dengan begitu dapat menurunkan stres dalam diri. “Puasa Ramadan menjadi momentum untuk bersiap-siap menjalani kehidupan setelah Ramadan selesai nanti. Jadi jangan sampai proses mengendalikan diri kita hanya saat puasa Ramadhan saja, justru puasa Ramahan menjadi bagian dari proses latihan awal untuk mengendalikan diri dalam konteks persiapaan kehidupan setelah puasa Ramadhan berakhir” paparnya.

 

Sementara akhir-akhir ini penulis juga sempat bincang-bincang dengan pakar atau para ahli dibidang ilmu giji dan kalori. Menurut sang pakar dibidang ilmu giji dan kalori itu ia menjelaskan, bahwa puasa membuat badan secara fisik menjadi semakin sehat. Sebab, saat puasa secara fisiologis sesungguhnya melatih tubuh dalam pembakaran kalori. Hanya saja ada kebiasaan yang masih keliru (salah) yang kerapkali dilakukan oleh masyarakat kita, yakni dalam pemilihan makanan saat buka puasa maupun sahur tiba, yakni yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kebugaran tubuh di saat kita menjalankan ibadah puasa. “Saat buka puasa kita makan dalam jumlah yang banyak misalnya, hal itu akan menyebabkan gula darah dalam tubuh semakin cepat naik dengan tinggi namun turunnya juga cepat. Hal itu yang tidak sehat untuk badan, yakni pada akhirnya nanti badan kita jadi lemes dan ngatuk karena cara dan pola makanannya yang kurang tepat,” ujar sang dokter dibidang ahli giji dan kalori itu kepada penulis. Menurutnya, saat menyantap makanan terutama ketika berbuka puasa misalnya, hal itu perlu dilakukan pengaturan pola makan secara bertahap. Dan itu penting dilakukan agar energi yang dikeluarkan juga keluar secara bertahap. Ketika penulis mengajukan sebuah pertanyaan, jenis makanan seperti apa yang baik dikonsumsi saat buka dan sahur tiba? Menurut sang ahli giji dan kalori itu, ia menganjurkan agar masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang sifatnya lambat dicerna tubuh. Misal untuk protein seperti daging, ikan, ayam. Sedangkan sumber karbohidrat dianjurkan untuk memilih dari karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, sereal, roti gandum utuh dibanding karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan mie. Selain itu juga mengonsumsi buah serta sayuran karena memiliki kandungan tinggi serat yang lambat dicerna sehingga bisa kenyang lebih lama selama kita menjalankan ibadah berpuasa. “Selama puasa agar tetap sehat dan bugar kuncinya bukan makan mahal dan enak. Tapi, kuncinya adalah makanan yang bervariasi, semakin variatif maka semakin banyak zat gisi yang diperoleh tubuh”. Tutur sang dokter dibidang ahli giji itu kepada penulis.

 

II. Puasa Menjaga Funsi Kognitif

 

Kegiatan spiritual selama bulan suci Ramadan, ternyata dapat mempengaruhi kesehatan otak. Hal itu dikemukakan oleh dokter ahli syaraf, yanki oleh dr. Yuda Turana. Menurutnya, selain bernilai ibadah, bahwa puasa juga dapat memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh, termasuk otak. Lebih dari itu menurut dokter ahli dibidang syaraf itu menjelaskan, bahwa kegiatan spiritual selama bulan suci Ramadan, hal itu dapat memengaruhi kesehatan otak. “Yang unik bukan karena sekedar puasanya, tapi melalui aktivitas puasa otak terprogram untuk melakukan sesuatu yang baik dan selalu diingatkan untuk lebih banyak aspek spiritual,” ujar ahli saraf, dr Yuda Turana (Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya). Lebih dari itu menurut dr. Yuda Turana, sebuah penelitian pada lansia misalnya, ternyata mendapati aspek spiritual yang tinggi dapat memproteksi otak lebih baik. Bahkan menurut dr Yuda Turana, kegiatan spiritual ternyata mampu membuat otak lebih rileks dan tidak stres. Sementara kondisi stres dapat memicu otak terkena gangguan kognitif atau penyakit otak seperti demensia Alzheimer. “Saat seseorang melakukan kegiatan yang spiritualnya tinggi, maka hal itu juga bersifat protektif terhadap stres yang kita tahu bahwa penyakit stres merupakan faktor risiko gangguan kognitif,” tutur Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya itu.

 

Oleh karena itu, sang ahli syaraf itu (dr Yuda Turana) menyarankan agar orang yang berpuasa itu untuk tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar saja, tapi juga untuk terus meningkatkan spiritual karena dapat melindungi otak. Selain kegiatan spiritual, dr. Yuda Turana juga menyoroti aspek asupan gizi saat bulan puasa yang memengaruhi kesehatan otak. Karena, berpuasa dapat meregenerasi sel-sel otak dan sekaligus juga bisa mencegah datangnya berbagai penyakit kronis. Karena asupan karbohidrat yang menurun dan seimbang, hal itu akan mampu menjaga fungsi kognitif seseorang. Sebaliknya, semakin terlalu banyak asupan karbohidrat pada setiap orang, maka hal itu dapat membuat fungsi kognitif yang dijalankan oleh otak malah semakin menurun. Bahkan, asupan karbohidrat yang rendah dan fungsi kognisi yang baik dapat mencegah penyakit kronis seperti diabetes dan lain sebagainya.

 

III. Misi Spiritual Dan Humanis Pada Puasa Ramadhan

 

Puasan merupakan ibadah yang bersifat “sirriyah” dan “asroriyah”, yakni ibadah yang sangat rahasia, yang hanya diri orang yang berpuasa dan Allah saja-lah yang tau. Dengan kata lain, bahwa ibadah puasa adalah ibadat yang paling pribadi, personal, atau privat, dan tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui dan apalagi menilai. Bahkan, dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan: “Puasa adalah untuk-Ku semata, dan Akulah yang akan menanggung pahalanya”. Artinya, pada dasarnya tidak ada yang tahu bahwa seseorang itu berpuasa selain Allah (dan dirinya sendiri). Tetapi orang itu “tidak perlu hawatir” jika puasanya itu tidak diketahui orang lain atau karena orang lain menduga bahwa dia tidak berpuasa, karena pada dasarnya, bahwa hanya Allah-lah yang akan memberikan langsung pahalanya.

 

Maka pertanyaannya adalah mengapa orang bersedia menahan lapar dan dahaga serta segala pemenuhan kebutuhan biologis lainnya, padahal dia dapat melakukan itu semua kapan saja dimana saja, yakni dengan secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui orang lain? Jawabannya adalah karena ia mempunyai keyakinan sedalam-dalamnya akan ke-Maha Hadiran (omnipresence) Allah, bahwa Allah selalu menyertainya, melihat dan mengawasinya. Dengan demikian, puasa sebagai ibadah yang sangat privat itu merupakan bagian dari latihan akan kesadaran ke-Maha Hadiran Allah kapanpun dan dimanapun seseorang itu berada. Kesadaran inilah yang melandasi ketaqwaan yang menjadi misi utama dan tujuan ibadah puasa yang akhirnya meluas pada nilai-nilai hidup lainnya, yakni yang amat tinggi seperti bertingkah laku yang baik dan terpuji, munculnya kepedulian sosial, punya rasa empati dan simpati kepada kaum du’afa dan lain sebagainya.

 

Dengan puasa yang dijalankan dengan kesadaran yang tinggi, maka ia (orang yang berpuasa) secara spiritual akan lebih “taqorub” atau lebih dekat kepada sang kholik-Nya. Lebih dari itu, melalui puasa, maka seseorang dilatih untuk mampu mengendalikan diri dari desakan untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis semata, yakni yang menjelma menjadi dorongan “hawa nafsu”. Bahkan, di dalam literatur kesufian disebutkan ada sembilan pintu hawa nafsu diataranya : satu pintu pada mulut, dua pada hidung, dua pada mata, dua pada telinga, satu pada kemaluan dan satu pada dubur. Sungguh sia-sialah puasa orang yang tidak dapat menahan kesembilan pintu hawa nafsunya itu. Artinya sia-sia saja seseorang berlapar-lapar dan menahan dahaga namun tetap melakukan tindakan yang buruk seperti berbohong, memfitnah, bersikap menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Hal itu sangat logis, mengingat sadar akan kehadiran Allah dalam hidup dan kehidupan adalah nilai-nilai moralitas yang tinggi, atau dalam terminologi ajaran Islam disebut dengan “akhlaq al-karimah”. Sementara kesadaran spiritual berupa perasaan selalu dilihat dan diawasi oleh Allah, hal itu dalam Islam disebut proses takhali, takholi dan tajali. Sementara dalam perspektif ihsan, hal itu yang kerapkali melahirkan sikap pengendalian diri yang kuat, jujur, tanggung jawab, amanah, sabar, ridha dan tawakkal. Dan saat berpuasa, maka seseorangdilatih untuk mengendalikan diri (self control) dan menahan nafsu, yang misinya demi untuk meningkatkan daya tahan mental dalam menghadapi berbagai stress kehidupan, yang kerapkali berimplikasi sangat penting bagi kesehatan jiwa. Selain itu, rasa lapar dan dahaga yang diderita orang yang sedang berpuasa selama sebulan penuh itu, diharapkan dapat menimbulkan rasa iba, simpati dan empati terhadap berbagai penderitaan orang lain yang tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonimisnya (kaum mustad’afin).

 

Inilah misi sosial dan humanis yang diharapkan terbentuk dari puasa, yaitu kepedulian sosial yang ekspresinya terimplementasikan dalam bentuk semangat menolong serta meringankan beban kaum dhu’afa melalui zakat, infaq dan sedekah. Dari uraian di atas terlihat betapa puasa mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas hubungan vertikal dengan Sang Maha Pencipta (hablun minallah) sekaligus juga hubungan horizontal antar sesama manusia (hablun minan nas) baik dalam hubungan keluarga, masyarakat maupun relasi dan interaksi sosial di lingkungan sekitar kita. Bahkan, penyebutan keterkaitan antara “iman” dan “amal shaleh” kerapkali tersistimatisir di dalam al-qur’an. Begitu juga hubungan antara “taqwa” dan “akhlaq” terdapat dalam sebuah hadis Nabi SAW bahwa “yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik. Akhirnya, ketercapaian misi spiritual dan humanis puasa Ramadhan pada diri seseorang itu, maka ia akan terlihat pada kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosionalnya atau ibadah mahdhoh dan ibadah ghair mahdhohnya, serta muncul pada prilaku dan kepribadiannya pasca Ramadhan.

(AM-212)