Banten – bhayangkaranews24.id, Turbulensi Kehidupan Masyarakat Modern Dan Sublimasi Spiritual Ibadah Ramadhan
Oleh : Adung Abdul Haris
Kemajuan teknologi dan globalisasi yang terjadi saat ini kerapkali memarginalisir (menyisihkan) manusia dari dirinya sendiri. Memang kemajuan peradaban dan kecanggihan teknologi yang terjadi di dunia saat ini adalah karya manusia itu sendiri. Karena, faktanya memang manusia-lah yang telah berkreasi, berinovasi, berpikir dan bekerjasama untuk membangun peradaban dan kecanggihan teknologi moderen dengan segala ciri produk dan fungsi kegunaannya dari teknologi yang serba canggih itu. Bahkan, dunia kini adalah ruang dimana materialisme adalah sebagai “episentrum” dari segala bentuk aktivitas hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Sekalipun manusia adalah subyek peradaban dunia, namun disaat yang bersamaan, malah manusia saat ini telah ‘terobyektivikasi’ dan sekaligus telah tersisihkan dari nilai-nilai kemanusiaanya. Sebutlah kini manusia makin kreatif dan inovatif, tapi ia juga semakin tergilas oleh kreativitasnya sendiri. Mungkin karena para manusia yang genius dan serba canggih saat ini, pada faktanya memang amat sangat gemar untuk ‘menciptakan’ teknologi canggih, yakni demi untuk merekayasa seisi alam dunia ini. Bahwa dunia ini adalah dunia yang riil bagi manusia yang (hubu dunia) dan sekaligus sang perekayasa teknologi canggih dan moderen. Maka berinovasi dan berkarya menghasilkan dan sekaligus menikmati fitur-fitur materialistik dunia yang profan ini adalah cara manusia genius dan canggih untuk mengawal eksistensinya. Sementara kasus keterasingan manusia dari dirinya sendiri itu, memang disebabkan oleh upayanya untuk terus menghasilkan karya-karya teknis-teknologis yang tujuan awalnya memang untuk mengefisienkan kerja. Namun pada akhirnya malah ditujukan untuk melayani kebutuhan tubuh dan gaya hedonistiknya yang bersifat jasadiyah manusia dan jauh dari yang bersifah ruhaniyah ilahiyah. Dan pada kenyataanya, bahwa kreativitas manusia saat ini bukan membawa pada keluasan jiwa, empati, dan sensitivitas sosial, melainkan hanya tumbuh dalam proyek-proyek teknik yang bersifat memperkaya budaya hedonistik. Sehingga yang terjadi : oleh materi, dari materi dan untuk materi, dan berkubang di semak-semak materi yang hedonistik. Apa yang masalah di dalam materi? Bukankah nyata betul kita hidup di dunis dan di alam materi saat ini? Mungkinkah kita menginkarinya? Jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut memang jelas mustahil bagi kita untuk menghindari dan sekaligus mengingkari soal materi, tapi bukan soal materi segala-galanya.
Oleh karena itu, saat ini mumpung kita masih berada di bulan suci Ramadhan, dan bulan yang penuh rahmat dan magfiroh, bahwa tuntutan maknawi jiwa fitrah manusia agar terus hadir di setiap relung-relung dan ruang-ruang kesadaran setiap individu umat muslim. Contohnya, sebagaimana kita saksikan dengan sangat kasat mata, materi yang terbentang di dalam aneka keragaman dan keunikannya, namun kemajuan materi itu harus memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di alam jagat raya ini. Lebih dari itu, harus disadari pula bahwa kecanggihan karya manusia modern saat ini, yakni berupa kecanggihan teknologi moderen, namun ia juga tentunya tak pernah sempurna, karena lebih banyak mementingkan hal-hal yang bersifat jasadiyah semata dan terkesan mengeliminir hal-hal yang bersifat ruhaniyah dan kesyahduan spiritualitas yang ada di setiap individu manusia.
Misalnya, sehebat-hebat air seperti bisa menumbuhkan tanaman dan pepohonan, tapi air juga tidak dapat menjadi satu-satunya sumber kehidupan dan pertumbuhan bagi setiap pohon, karena pepohonan juga masih butuh sinar matahari dan perlu dipupuk dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa materi selalu khas dan berbeda, namun tetap saja ia terbatas. Sementara tuntutan yang hakiki jiwa manusia adalah ketakterbatasan (sangat langgeng), yakni butuh spiritualitas dan keilahian, dan sudah barang tentu manusia tidak mungkin menautkan diri terus-terusan pada soal materi. Bagi hidup sekedar hidup, materi adalah cukup. Tapi bila kita berupaya untuk mencari ‘makna hidup’, hal itu tentu saja soal materi itu tidak akan cukup. Bahkan, dalam konstruksi ‘makna hidup’, bukan apa yang terbentang dalam keanekaan tapi yang melingkupi segala keragamannya, yakni apa yang hakiki, yaitu yang meliputi segalanya, dimana yang segalanya itu hanya mungkin sebagai yang aneka macam berkat sang hakikat tersebut. Karena yang jelas, keragaman tidak mungkin absolut, oleh sebab saling berbatasnya satu sama lain.
II. Spiritualitas Sebagai Makna Hidup
Oleh karena itu, pasti ada realitas absolut yang secara esensial bisa mengatasi berbagai bentuk keberbatasan. Dan dialah subyek hakiki yang sesungguhnya yang dituju oleh jiwa manusia berdasarkan obsesi immortalitasnya. Realitas absolut itu adalah kebenaran mutlak (Tuhan), dan semua sumber makna hidup memang bersumber dari-Nya. Sementara jalinan pertautan jiwa yang mencari makna dengan Tuhan sebagai realitas absolut merupakan suatu hubungan spiritual, dan melalui hubungan spiritual itulah akhirnya segala pengetahuan yang bersifat hakiki terus mengalir menetes langsung ke jiwa. Pengetahuan spiritual semacam itu hadir bukan dalam konstruksi teoritis-konseptual yang dilimitasi oleh ragam kategori transendental-rasional ala manusia pemikir rasionalistik ateistik. Tapi suatu guyuran cahaya makna yang hanya bisa dirasakan sebelum difahami oleh pikiran, dan kerapkali guyuran cahaya hidayah dan kesyahduan spiritualitas itu khususnya bagi kita umat Islam, ia (pintu hidayah, magfiroh dan rahmat Allah itu) hadir di bulan sici Ramadhan.
Spiritualitas menandaskan tujuan akhir manusia yang tidak sekedar berdimensi waktu-kronologis, tapi juga ontologis. Sehingga dalam perspektif spiritualitas, bahwa setiap gerak dengan sendirinya adalah bersifat ilahiyah, karena manusia bersifat “Lahaula Wala Kuawata Ilah Billah”. Dengan kata lain, sekaliupun kehidupan material tampak hanya bersifat kronologis karena sifat limitasnya tapi dalam “The grand scheme of thing”, ia adalah gerak ilahiyah (spiritual) dimana segala sesuatunya itu, ia berkerja atas kehendak-Nya.
Maka spiritualitas sebagai makna hidup bagi manusia tidak pada soal menghindari dunia, tapi bagaimana agar bisa memberi makna baru yang bersifat ilahiyah-perennial pada manusia dan pada dunia. Sehingga dunia tak lagi segudang materi yang terus menggilas jiwa manusia, tapi ia adalah cermin dari realitas absolut. Agama menyatakan bahwa alam (baik materi mapun non-materi) merupakan ayat kauniyah, yakni tanda tanda kebesaran Allah. Dan tanda-tanda kebesaran Allah memang selalu mengarahkan manusia pada yang ditandai. Sehingga kehidupan material seyogyanya dijalani oleh seorang hamba di dunia ini tidak dalam rangka mengejar keinginan jasadiah semata, yakni yang tak akan pernah puas. Sebab di dunia ini tak ada apapun yang dapat memuaskan manusia secara absolut, melainkan manusia harus terus menemukan jati dirinya yang sejati, yakni nilai-nila ketuhanan yang ada di setiap individu manusia.
Jadi, jika apapun aktivitas manusia di dunia ini, baik yang bersifat ritual-ubudiyah, kemudian yang bersifat ilmiah-teknologi maupun yang bersifat mu’amalah-sosial, yang ujung-ujungnya tidak akan menumbuhkan cahaya spiritual di dalam jiwa manusia dan sekaligus tidak akan mendekatkan manusia kepada sang khaliknya, pada akhirnya menurut hemat penulis, hal itu tidak akan memiliki makna insaniah atau nilai-nilai kemanusiaan sama sekali, dan itu juga tidak akan membawa manusia pada kepuasan yang bersifat hakiki, langgeng dan yang bersifat absolutistik.
Bahkan, kerapkali hal-hal yang bersipat spiritualitas saat ini ‘hanya’ menjadi salah satu jalan alternatif, yakni ketika manusia telah terjadi kebuntuan hidup dan mengalami kepenatan jiwa. Artinya soal spiritualitas itu, seolah-olah dijadikan sebagai jalan alternatif belaka. Dan spiritualitas kerapkali dihadirkan ketika kita sedang sedih, tatapan kosong, gelisah, galau dan gundah-gulana melanda hati. Artinya, soal spiritualitas dan keyakinan agama, seolah-olah tidak benar-benar diyakini sebagai jalan yang hakiki kehidupan, tapi hanya sekedar sebagai pelengkap saja. Dan hal itu memang penyebabnya adalah cara pandang dunia yang masih materialistik, dan jalan spiritual hanya untuk meredakan jiwa sesaat saja. Praktis, hal-hal yang bersifat spiritualitas itu, ibarat sebagai obat penenang belaka.
Hal tersebut diatas, sangat jauh berbeda dengan cara pandang dunia yang bersifat eksistensial, yakni yang meletakkan spiritualitas sebagai basis utama kehidupan. Spiritualitas adalah keharusan eksistensial bagi manusia dan alam. Artinya satu-satunya alasan mengapa dunia ini eksis…? Karena semata keterkaitannya pada Sang Realitas Absolut (Allah Ajja Wajalla), dan oleh karena itu eksistensi dunia mesti bersifat spiritual. Karena, materialitas dunia hanyalah manifestasi lahir dari spiritualitasnya. Maka hidup, bagi pandangan ini (kaum eksistensialitas), adalah jalan kembali menemukan kehakikian eksistensi yakni spiritualitas, sehingga pengejaran yang penuh nafsu terhadap dunia yang profan tersebut, justru bukanlah suatu gerak yang sejati, ibarat kata hanya sekedar ‘berjalan di tempat’, dan seakan-akan ia bergerak, tapi tak mencapai apa-apa kecuali ada dalam kekosongan dan ketakberartian. Dan oleh karena itu, untuk mengeliminir tentang “Turbulensi kehidupan manusia dari sisi spiritualitas ini, yakni yang menjadi tema utama pada tulisan kali ini. Mari kita pompa kembali alam ruhaniyah kita di bulan suci Ramadhan ini, agar nilai-nilai spiritualitas terus inheren kembali pada setiap diri kita, pada relung batin kita, dan pada sanubari diri kita, yang akhirnya kita bisa menikmati kembali “kesyahduan” Ramadhan 1445 ini.
III. Bulan Ramadhan Membentuk Keshalihan Spiritual Dan Sosial
Kata ramadhan merupakan bentuk mashdar atau qiyasi dari kata : “ramadha-yarmadhu-ramdhan wa ramadhan”, yang secara harfiah berarti panas terik (syiddat al-hurr). Disebut bulan Ramadhan, karena menjadi sarana menggugurkan dosa-dosa bagi hamba Allah yang beriman dan sekaligus menjalankan ibadah puasa (yurammidhu ai yuharriku al-dzunuba). Bahkan, perintah berpuasa di bulan Ramadhan telah dinyatakan dalam Al-qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, semoga kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”
Sedangkan spirit Ramadhan sangat erat dengan kesalehan sosial. Misalnya, ketika terjadi kasus pasangan suami istri melakukan hubungan biologis pada siang hari di bulan Ramadhan, maka kafaratnya adalah memberi makan enam puluh orang miskin, karena salah satu pesan moral puasa yaitu memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitarnya. Kasus lain, bahwa orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, maka diharuskan untuk mengeluarkan fidyah bagi orang-orang miskin (QS al-Baqarah Ayat 184). Hal itu menggambarkan, jika tidak sanggup menjalankan ritual puasa, maka paling tidak, laksanakanlah pesan moral puasa, yakni menyantuni fakir miskin. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis menegaskan bahwa dalam ajaran Islam harus ada keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Karena, puasa di bulan Ramadhan menekankan pada peningkatan kualitas iman dan amal saleh. Secara teologis, puasa berarti upaya untuk menghadirkan Allah dalam jiwa manusia yang selalu mengawasi dimana pun ia berada (QS al-Nisa’ Ayat 1).
Sementara dalam tinjauan sosiologis, bahwa puasa adalah upaya untuk meneladani sifat-sifat ketuhanan untuk diwujudkan di dalam realitas kehidupan. Karakteristik ini tergambar dalam pohon thayyibah : Yakni, yang akarnya kokoh terhunjam di dalam tanah, kemudian rantingnya menjulang tinggi ke angkasa, dan memberikan buahnya dengan seizin Tuhannya. Akar menggambarkan akidah (keyakinan), ranting menggambarkan ibadah (hubungan vertikal dengan Allah), dan buah menggambarkan akhlak.
Untuk itu, bahwa bulan Ramadhan, bulan suci dalam agama Islam, dan Allah telah memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan di bulan Ramadhan juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual bagi setiap individu muslim, serta untuk memperkuat ikatan dengan sesama umat manusia. Bahkan, dalam setiap tahunnya, umat Islam menantikan kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh antusiasme dan keceriaan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari). Hadits tersebut menegaskan betapa pentingnya berpuasa selama bulan Ramadhan serta menunjukkan bahwa bulan ini adalah waktu yang sangat istimewa dalam agama Islam. Sedsngkan beberapa keutamaan yang membuat bulan Ramadhan menjadi momen yang sangat berharga bagi umat Islam di seluruh dunia diantaranya adalah :
1.Kehadiran Rahmat Dan Pengampunan
Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan dimana rahmat dan pengampunan Allah SWT melimpah ruah. Umat Muslim percaya bahwa di bulan Ramadhan, bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita sebagai umat Muslim, yakni untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka dan untuk memperoleh keberkahan ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.
2. Kesempatan Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah
Selama bulan Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah mereka, seperti shalat, puasa, membaca Al-Quran, dan bersedekah. Hal itu juga adalah waktu yang baik untuk kita dalam memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, yakni melalui amalan-amalan yang dianjurkan.
3. Ujian Kesabaran Dan Disiplin
Puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan ujian kesabaran, ketahanan, dan disiplin diri. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang diharamkan selama waktu puasa, kita semua berharap dapat melatih diri untuk menjadi lebih sabar dan disiplin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
4. Solidaritas Dan Kepedulian Sosial
Bulan Ramadhan juga merupakan waktu dimana umat Muslim meningkatkan kesadaran mereka terhadap orang-orang yang kurang mampu. Melalui praktik berbagi makanan dengan yang membutuhkan, bersedekah, dan memberikan sumbangan untuk amal, umat Muslim tentunya dapat memperkuat ikatan sosial dan menunjukkan solidaritas dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi.
5. Momen Refleksi Dan Introspeksi
Ramadhan memberikan kesempatan bagi kita umat Muslim untuk merenungkan perbuatan kita, mengevaluasi hubungan kita dengan Allah SWT dan sesama manusia, serta untuk memperbaiki diri. Dengan melakukan introspeksi diri, kita berharap dapat memperbaiki kebiasaan buruk kita dan memperkuat keimanan kita. Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa bagi kita umat Islam di seluruh dunia. Selain sebagai waktu ibadah dan spiritualitas, bulan Ramadhan juga merupakan momentum untuk meningkatkan solidaritas sosial, merenungkan diri, dan memperbaiki diri. Dengan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada selama bulan Ramadhan, semoga kita semua dapat meraih keberkahan dan keutamaan yang terkandung di dalamnya dan semoga kita semua diakui oleh Allah Swt sebagai hamba-hambanya yang bertaqwa (Muttaqin).
(AM-212)



